Kognisi.com
Persepsi

Lima Alasan The Hangover Decade adalah Album Label Mayor Terbaik SID

Superman Is Dead—kerap disebut SID—begitu kontroversial dan fenomenal pada awal kemunculannya di panggung nasional. Tahun 2003, saya adalah anak SMP biasa yang tumbuh besar di Bali dan tidak punya akses ke dunia underground. Saya terheran-heran dengan info dari kawan bahwa ada band asal Bali yang masuk televisi. Saya tidak bermaksud mengesampingkan pengaruh Navicula yang juga masif di ranah grunge nasional, tetapi ketika itu SID berada di level yang berbeda. Meskipun video klipnya tidak sering diputar MTV dan tidak masuk sepuluh besar chart TV, bagi saya SID adalah sebuah simbol sekaligus kebanggaan. Soal band nasional, saya selalu mendengar tentang Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogja. Hey, sekarang Bali juga punya!

Dibentuk tahun 1995 oleh mahasiswa-mahasiswa beda kampus (Bobby, Eka, dan JRX), SID begitu serius dan fokus untuk ukuran band indie saat itu. Di tahun kedua, mereka sudah mengeluarkan album pertama, disusul album kedua di tahun ketiga. Kemudian berlanjut ke EP Bad Bad Bad yang meledak di tahun 2002, sebelum debut mereka di bawah major label yang penuh pro dan kontra.

Seiring dengan fanbase mereka, Outsider dan Ladyrose, yang isinya mayoritas remaja dan tumbuh semakin besar, musik SID perlahan mulai bergeser dari karakter yang saya kenal. Banyak faktor, tentu saja. Usia, perubahan pemahaman hidup, referensi yang semakin banyak, stamina yang tak seperti dulu, eksplorasi musikal, ataupun upaya untuk menggaet pangsa pasar yang lebih luas.

Tulisan ini mungkin saja bias dan kalian boleh saja tidak menyetujuinya.

Apa yang ingin saya sampaikan adalah dari lima album studio SID di bawah naungan Sony Music Indonesia, The Hangover Decade adalah album terbaik.

Album The Hangover Decade

Namun entah apa alasannya, kurang diapresiasi oleh banyak orang. Saya melihat The Hangover Decade adalah perwujudan SID yang sesungguhnya dan puncak musikalitas mereka. Berikut adalah lima faktor yang membuat saya berpikiran demikian. Bacalah dengan seksama, remaja-remaja Outsider!

  1. SID Melakukan Rerecorded pada Dua Track Terfavorit di Era Indie

Kuta Rock City memiliki track yang direkam kembali seperti, This Is Unlove, Here I Am, Money Money Money, Fuckin’ Hero, dan My Girlfriend is Pregnant. Namun tak bisa dipungkiri, dua lagu yang paling sering di-cover dari era indie di pensi-pensi sekolahan adalah Bad Bad Bad dan Long Way To The Bar. Memiliki dua track favorit di era indie yang direkam ulang adalah nilai plus untuk membuat penggemar lama penasaran versi baru dan penggemar baru penasaran dengan versi lama. Dua track  lain yang direkam ulang dalam The Hangover Decade adalah Beyond This Honesty dan TV Brain. Saya sendiri berpikir, andaikan White Town direkam ulang juga di album ini, tentu akan lebih menakjubkan.

  1. Duet Terbaik: Falling Down Melanie Subono

Di track Falling Down, SID mengajak Melanie Subono untuk berduet dengan nuansa rock ‘n roll. Itu adalah ide yang segar. Saingan terberatnya mungkin adalah duet gahar dengan Prima di track Citra O.D album Black Market Love. Cameo legenda reggae Bali, Johnny Agung, di track Moral Dillema adalah faktor yang membuat The Hangover Decade satu point lebih baik. Bagaimana dengan album lainnya? Kuta Rock City memiliki Burn For You yang notabene adalah lagu yang bagus, tetapi vokal Tinka tidak berhasil dalam percobaan menjadi seperti Kim Shattuck di Lori Meyers-nya NOFX. Jika Kami Bersama di album Angels and The Outsiders terkesan lebih seperti lagu kepunyaan Shaggy Dog yang berduet dengan SID. Katakanlah, lampu sorotnya tercuri. Album terakhir, Sunset di Tanah Anarki dan Brianna, memiliki lirik yang bikin bingung, “andai kumalaikat, kupotong sayapku. Dan rasakan perih di dunia bersamamu.” Apa yang terjadi, SID?

  1. Special Track: Kings, Queens, and Poisons

Apakah kalian tahu, jika drummer sekaligus frontman SID, JRX, memiliki band yang social distortion-esque, di mana ia menjadi vocal guitar di sana? Band itu bernama Devildice, dan album pertama mereka, In The Arms of The Angel diluncurkan di tahun yang sama dengan The Hangover Decade. Uniknya, dua album ini memuat dua track yang sama, dengan vokalis dan tempo yang berbeda: Kings, Queens, and Poisons. Jika di SID dinyanyikan Bobby dengan tenang, di Devildice dinyanyikan lebih kencang oleh JRX!

  1. Porsi Influence: NOFX dan lain lain

Suka tidak suka, SID pernah dijuluki NOFX-nya Indonesia, dengan karakter musik di album Case 15 yang sangat kentara. Durasi singkat. Vocal a la Fat Mike. Jika dibandingkan dengan Kuta Rock City yang agak poppunk-ish, Black Market Love yang mulai dark (dengan sentuhan rockabilly/psychobilly dan style kumis!), Angels and The Outsiders yang terdengar seperti album Devildice dengan Bobby pada vokal, dan Sunset di Tanah Anarki—yang entah-apa-ini-tak-mampu-saya-pahami—The Hangover Decade adalah kombinasi yang pas. Sebab, walaupun kental dengan NOFX, ditemukan juga pengaruh Green Day era sebelum Billie Joe makin peduli penampilan, pengaruh Living End, dan pengaruh Social Distortion. Semua itu terkombinasi dengan pas di album ini.

  1. Mereka Seakan Tak Peduli, dan Itu Keren

Di album The Hangover Decade, track dengan lirik berbahasa Indonesia hanya ada dua. Ya, hanya dua. Sebagai perbandingan, di album lainnya SID memuat 4 sampai 8 lagu berbahasa Indonesia. Bagaimana dengan lagu andalan? Muka Tebal! Bukan bentuk lagu yang cocok untuk didengarkan komunitas layaknya Punk Hari Ini atau Kuta Rock City. Bukan lagu yang catchy dan easy listening layaknya Bukan Pahlawan ataupun Kuat Kita Bersinar. Bukan pula lagu berprestasi, patriotik, berhati mulia, berguna bagi nusa dan bangsa seperti Jadilah Legenda. Terpilihnya Muka Tebal sebagai lagu pertama yang dijadikan klip di album The Hangover Decade seakan-akan menunjukkan proses kreatif SID saat itu berjalan alami saja tanpa memikirkan reaksi pasar.

Seperti yang saya sebutkan di awal, tentu wajar jika kalian tidak menyetujuinya. Saya pun tak perlu menyetujui pendapat kalian, kan? Bahkan barangkali, jika personel SID membaca tulisan ini, mereka punya pendapat pribadi soal album terbaik mereka. Sebagai penutup, izinkan saya mengutip sebuah ungkapan tentang punk,

“A guy walks up to me and asks ‘What’s Punk?’ So I kick over a garbage can and say ‘That’s punk!’ So he kicks over the garbage can and says ‘That’s Punk?’, and I say ‘No that’s trendy!”

Komentar

comments

Related posts

Review Film Wiro Sableng 212 (2018): Kebangkitan Legenda Pop-culture era 90-an

Ajin N.R

Mission: Impossible – Fallout ; Kumis Henry Cavill Yang Terbayar Tuntas!

Izfah Sebastian

Sekelebat Tulisan Tentang Mode Pakaian

Ayu Amelia

Kognisi.com menggunakan fitur cookie untuk memaksimalkan pengalaman berselancar anda pada laman kami. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
Lewat ke baris perkakas