Kognisi.com
  • Home
  • Edukasi
  • Homo Floresiensis: Sang Hobbit Yang Merupakan Kita
Edukasi

Homo Floresiensis: Sang Hobbit Yang Merupakan Kita

Beberapa dekade lalu, para antropolog yang sedang meneliti artefak di Pulau Flores mendapatkan mitos makhluk kerdil. Penduduk suku Nage mengatakan bahwa manusia bukanlah satu satunya makhluk yang mendiami Flores, akan tetapi ada makhluk lain yang juga bertempat di pulau itu, mereka menyebutnya ebu gogo. Dalam bahasa Nage, ebu” adalah nenek dan “gogo” berarti memakan segalanya. Suku ini mendeskripsikan ebu gogo sebagai makhluk menyeramkan yang tingginya hanya beberapa kaki, suka mengganggu dan memakan manusia, berlengan panjang mirip kera, mengenakan pakaian dan bisa bercakap. Dalam mitos ini, ebu gogo yang kerdil telah musnah, dibakar hidup-hidup oleh sekelompok manusia di sebuah gua.

Seiring berjalannya waktu, segalanya menjadi lebih menarik. Mitos mengenai makhluk kerdil muncul dalam realita. Tahun 2003, ilmuwan berhasil menemukannya, si makhluk kerdil yang terkubur dalam gua kapur, Liang Bua, pulau Komodo. Ilmuwan menyebutnya “hobbit” untuk menghargai karya Tolkien tentang kisah manusia kerdil dari timur yang populer pada abad ke 20. Sebagian dari mereka juga menjulukinya “Flores Man”. Ini sangatlah mengejutkan, apakah ebu gogo nyata dan bukan mitos suku Nage belaka? Apakah hobbit itu nyata? Bak artis di dunia sains, makhluk ini pun kemudian menjadi perbincangan hangat di kalangan ilmuwan dunia.

Penggalian kerangka manusia kuno di gua Liang Bua, Flores. Sumber : Daily Mail UK

Bagaimana semua ini berawal?

Ekskavasi Liang Bua dilakukan sejak tahun 2001 oleh gabungan tim arkeolog Indonesia, Thomas Sutikna dari Badan Arkeologi Nasionaldan Michael Morwood dari University of New England, Australia. Tujuan awal penggalian ini adalah pencarian jejak migrasi nenek moyang Aborigin Australia di Pulau Flores. Namun, diluar dugaan dan ekspektasi, tim ini berhasil menemukan sebuah tengkorak hominin yang ternyata adalah spesies baru.

Ditemukan di kedalaman 5 meter dengan kondisi rapuh dan belum membatu (subfosil), kerangka tubuh hampir lengkap itu dinamai Liang Bua 1 (LB 1). Skeleton dengan ukuran endokranial hanya 380 cc dan tinggi sepinggang orang dewasa atau sekitar 100 cm mungkin adalahanak-anak. Tapi dugaan ini salah, penelitian morfologi gigi LB1 menunjukkan bahwa ini bukanlah keragka anak anak, melainkan individu dewasa berusia 30 tahunan dan berjenis kelamin betina dilihat dari struktur tulang pelvisnya.Kemudian para peneliti bertanya tanya, bagaimana bisa manusia dewasa memiliki ukuran otak dan proporsi tubuh yang begitu kecil? Kita tak pernah menjumpai manusia modernberusia puluhan tahun dengan morfologi seperti itu.

Gambar menunjukkan perbandingan tengkorak Homo Floresiensis dan Homo Sapiens. Sumber : Daily Mail UK

Tahun berikutnya, tim berhasil menemukan 8 individu lain (LB2-LB9), termasuk yang paling penting adalah LB6, sebuah mandibula. Selain kerangka manusia, tim juga menemukan fosil stegodon (gajah kerdil) dan fosil kadal besar atau komodo yang mungkin tinggal di waktu yang sama dengan LB1.

Fitur hominin

Homo ini diwakili oleh kerangka betina LB1 dan sebuah mandibula LB6. Tinggi badannya tak lebih dari 100 cm atau 3.5 kaki dan berat sekitar 35 kg saja. Volume endokranialnya sepertiga milik kita, atau tak lebih dari simpanse, hanya sekitar 380 cc. Seperti Australopitechus yang bipedal, Flores Man mempunyai fitur lengan yang lebih panjang daripada kaki. Wajahnya memiliki Frontal lobe yang relatif lebih besar dari manusia modern. Ciri khas lain ada pada mandibulanya, tidak mirip sama sekali dengan dagu spesies manusia manapun.

Melihat mosaik dan fitur yang sangat unik ini, setahun kemudian, Brown et al (2004) melakukan riset dengan membandingkan morfologi subfosil LB1 dengan Homo erectus, Homo ergaster, Homo Georgicus dan Homo Sapiens dan Australopithecus Africanus. Hasilnya, morfologi LB1 sangat istimewa, dan berbeda dengan homonin tersebut. LB1 adalah spesies baru dalam pohon keluarga kita. Brown mengajukan atribusi Homo Floresiensis, dan telah menentukan taksonominya.

Di awal penemuan, ilmuwan memperkirakan usia Homo floresiensis dari lapisan tanah tempat subfosil digali. Usia geologisnya berdasarkan kalibrasi radiokarbon adalah 18.000 tahun. Kenapa usianya begitu muda?Adam Brummand dan rekannya dari Australia National University melakukan riset artefak yang ditemukan disekitar liang bua. Ternyata, artefak tersebut tidak jauh beda dari artefak situs lain yang juga ditemukan di Flores, dan telah berusia 800.000 tahun. Jika artefak ini milik Homo floresiensis, bagaimana bisa periode yang sangat panjang tersebut nyaris tanpa perubahan?

Statigrafi deposit Liang Bua hasil revisi Thomas Sutikna et al 2016.


Penelitian terbaru tahun 2016,
Thomas Sutikna merevisi statigrafi dan kronologi Homo floresiensis. Dalam makalahnya, Sutikna menjelaskan terjadinya erosi pedestal pada permukaan gua yang menyebabkan kesalahan perkiraan awal. Lapisan tanah harusnya menunjukkan usia lebih tua. Metode pengukuran usia tulang menggunakan Laser-ablation uranium pun dilakukan untuk memastikan usia spesies ini. 100.000 tahun adalah jawaban paling tepat. Usia artefak diteliti kembali dan didapatkan angka 100.000-60.000 tahun.

Mengapa Mereka Kerdil?


Di zaman pleistosen, air laut terkunci gletser sehingga permukaannya tidak begitu dalam dan pulau lain dapat diakses tanpa menggunakan perahu. Hominin awal mulai bermigrasi ke pulau pulau sekitar dengan mudahnya, termasuk beberapa diantara mereka mengunjungi pulau Flores. Ketika periode ini berakhir, es mencair dan permukaan air laut mulai naik. Mereka terisolasi di Flores, yang pada masa itu hanya memiliki sedikit sumber daya, bahkan hanya ada beberapa predator saja. Terperangkap
dalam tekanan ekologis seperti itu, mereka harus tetap bertahan hidup.

Alam pun mengucapkan mantra evolusi panjang yang dinamakan “insular island dwarfism”. Simsalabim. Selama beberapa generasi, manusia kuno ini menjalani pengerdilan karena ukuran tubuh yang kecil memiliki beberapa keunggulan selektif. Tubuh yang kecil hanya membutuhkan sedikit energi. Perubahan morfologi ini juga terjadi pada mamalia bertubuh besar. Stegodon misalnya, gajah kerdil yang telah punah, juga berbagi pulau di waktu yang sama dengan homo floresiensis.

Lalu, bagaimana bisa volume endokranialnya begitu kecil?

Ada sebuah hipotesa yang diajukan ilmuwan, disebut “Predator Free Hypothesis”. Di lingkungan yang beresiko tinggi, kewaspadaan adalah masalah hidup dan mati. Bertahan hidup bersama sedikit predator membuat Homo floresiensis tidak perlu kewaspadaan tinggi. Volume otak dapat menurun dengan sendirinya. Tapi saat itu Flores sudah dihuni predator menakutkann, seperti buaya, hiu, atau bahkan Varanus Komodoensis, kadal raksasa yang mematikan.

 

Siapakah Nenek Moyang Homo Floresiensis?

 

Cabang pohon keluarga kita bertambah. Tapi di cabang yang mana? Hominin manakah yang menurunkan spesies kerdil ini?

 

Hipotesis awal yaitu Homo erectus. Peter Brown sang penemu hominin ini, menduga Homo Floresiensis adalah Homo Erectus Jawa yang bermigrasi ke Flores dan mengerdil. Hipotesa ini didukung oleh Lyras et al (2008) dan Kaifu et al(2015). Penelitian dental pertama, analisis kontur mahkota 6 gigi premolar dan molar menunjukkan bahwa Homo floresiensis lebih mirip dengan Homo Erectus pada pleistosen awal daripada homo habilis atau homo ergaster.Hasil CT scan otak Homo Floresiensis oleh Dean Falk juga memiliki kesimpulan sama.Tapi, jika Homo erectus adalah leluhur Homo floresiensis, mengapa hingga kini kita belum bisa menemukan fosil Homo Erectus jawa di Flores? Selain itu, dilihat dari endokranial LB1 yang sangat kecil, Collin Graves berpendapat bahwa tidak mungkin manusia ini diturunkan dari Homo erectus.

Hipotesis kedua adalah hominin yang lebih awal dari Homo Erectus. Argue et almenduga kemungkinan nenek moyang Homo Floresiensis adalah spesies homo awal, yang hidup di zaman pleistosen, dan lebih tua dari Homo Erectus. Kapasitas otak yang kecil, simfisis mandibula, prognatisme wajah adalah kondisi pleisomorfis. Kandidat homo yang memiliki kondisi sama adalah Homo habilis, Homo ergaster atau Homo georgicus.

LB6, sebuah mandibula Homo floresiensis sangat mirip dengan mandibula Homo habilis yang menyebar keluar afrika sebelum Homo erectus. Hipotesa ini didukung oleh penelitian Matthew Tocheri dari Smithsonian Institution. Tocheri menemukan kemiripan tulang karpulaHomo Floresiensis dengan Homo Habilis. Collin Graves dalam papernya yang berjudul “Walking with Hobbits” juga mendukung hipotesis ini.

Kontroversi

  1. Mikrosefalic Human

Mikrosefali adalah gangguan yang ditandai dengan menurunnya pertumbuhan otak dengan atau tanpa kelainan lainnya. LB1 diduga hanyalah manusia modern yang mengidap salah satu tipe mikrosefali, yaitu Majwski’s microcephalic osteodyplastic primordial dwarfism II (MPODII). Gejala MPOD II yang terdapat pada LB1 adalah ukuran anggota gerak yang pendek dan volume cranial yang kecil.

Tahun 2006, salah satu ahli palaeoantropologi terkemuka Indonesia, Teuku Jacob mengeluarkan paper yang menentang atribusi “Floresiensis” kepada LB1. Menurutnya, Homo floresiensis hanyalah sapiens yang mengidap mikrosefali, terlihat dari penduduk sekitar gua yang memiliki fitur tubuh hampir sama dengan LB1. Mengenai simfisis mandibula, Jacob melakukan perbandingan tengkorak LB1 dengan foto orang Rampassasa yang berdagu agak kebelakang. Jacob kemudian menyimpulkan bahwa penyusutan simfisis mandibula adalah jangkauan manusia modern. Menurutnya LB1 bukanlah homo purba yang telah punah, tapi sama dengan kita, Homo sapiens.

 

Beberapa orang Rampassasa mungkin berukuran pendek, tapi tidak ada yang sependek LB1. Karena itu, perbandingan yang dilakukan Jacob dianggap dangkal oleh Collin Graves.Hipotesis patologis ini juga ditentang oleh Dean Folk dan koleganya dari Florida State University dan juga Debbie Argue dalam karya ilmiahnya yang berjudul “Homo Floresiensis: Microchepalic, Pygmoid, Australopitechus or Homo”. Argue membuat perbandingan 2 manusia modern mikrosefali dengan LB1. Hasil analisis cranial dan postcranial metric adalah LB1 tidak mungkin sama dengan Homo sapiens mikrosefali, hanya memiliki kemiripan morfologi endokranial dan ukuran tubuh yang kecil saja. Penelitiannya juga membuktikan perbedaan yang mencolok di tiap tengkorak hominin.

 

  1. Laron syndrome hypothesis

Laron syndrome adalah kelainan genetik yang diberitakan pada akhir abad ke20. Salah satu gejalanya adalah ukuran tubuh yang kerdil. Manusia modern dewasa yang mengidap kelainan ini tingginya hanya sekitar 100-130 cm untuk wanita dan 120-150 cm pada laki laki. Ilmuwan yang mengajukan hipotesa ini adalah G. D Richard pada tahun 2006. Dengan melakukan perbandingan cranial dan postcranial LB1 dengan 64 individu yang mengidap Laron syndrome richard menyimpulkan bahwa LB1 bukanlah spesies berbeda dari kita. Homo floresiensis hanyalah Homo sapiens patologis. Tapi, untuk memastikannya, kita membutuhkan sampel DNA dari Homo floresiensis. Sayangnya, mempertimbangkan keadaan subfosil,hal tersebut mustahil dilakukan.

2. Endemic cretinism hypothesis

Manusia modern yang kekurangan asupan iodium akan menderita hypotiroid dan menjadikan ukuran tubuh dan otaknya semakin mengecil. Fenomena ini terjadi di sebagian populasi orang Indonesia. Peter J Obendorf dan koleganya mengajukan hipotesis ini tahun 2008.

Namun, argumen ini dibantah oleh sang atributor Homo floresiensis, Brown. Ia menguji kembali morfologi skeletal dan dental dengan indikator ostegologis dari manusia kretin, dan sampai pada kesimpulan awal. Homo floresiensis adalah spesies lain, bukan sapiens.

3.Down syndrome hypothesis

Tahun 2014, diagnosa patologis lain dikemukakan oleh M. Henneberg. Hominin yang ditemukan di Liang Bua adalah manusia modern tipe australomelanesian yang mengidap sindrom down. Tapi, jika di lihat lagi dari fitur fisiknya, LB1 memiliki simfisis mandibula yang khas dan tidak dimiliki manusia modern, tidak bagi sapiens penderita sindrom down.

Mengapa mereka punah?

Dalam skenario mitos suku Nage, ebu gogo dan manusia modern saling berinteraksi dan menjalin hubungan. Hubungan itulah yang akhirnya membuat ebu gogo punah. Mengingat Homo neandhertal yang punah karena ulah nenek moyang kita beberapa juta tahun lalu, apakah kita juga melakukan hal yang sama pada hobbit ini? Apakah benar spesies kita yang memusnahkan Homo floresiensis? Kita masih berusaha menemukan jawabannya.***

Komentar

comments

Related posts

Eksistensi Pop Punk: Sisi Lain dari Kultur Punk

Ivan Matheus

Konsekuensi Buruk Era Digital: Manusia Hidup di Dunia Nyata

Ajin N.R

Katastropi Malthusian: Posibilitas dan Kegagalan Prediksi Bencana Overpopulasi

Xavier Abigail

Kognisi.com menggunakan fitur cookie untuk memaksimalkan pengalaman berselancar anda pada laman kami. Apabila anda tidak berkenan, anda dapat mematikan fitur ini. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
Lewat ke baris perkakas