Kognisi.com
  • Home
  • Kontemplasi
  • Rasa Kesepian Di Zaman Modern: Mengapa Itu Begitu Menjebak dan Cara Kita Membebaskan Diri
Kontemplasi

Rasa Kesepian Di Zaman Modern: Mengapa Itu Begitu Menjebak dan Cara Kita Membebaskan Diri

“Bayu dingin lalu,
Kan bintang mengedip sayu.
Rembulan menyuram,
Tiada terbayang harapan…”

Ketika Kesendirian Mulai Menjadi Kebiasaan

Seperti itulah almarhum Chrisye menggambarkan kesepian, kesendirian, dan perasaan isolatif dalam chorus lagunya yang berjudul “Sendiri”. Di tambah gubahan musik Guruh Soekarno Putra, perasaan yang mendalam dan meluluh lantak semakin menggerus hati siapapun yang mendengarnya dengan penuh peresapan. Di masa kini, perasaan tersebut semakin timbul dan eksis seiring dengan kompleksitas sosial, ekonomi, dan banyak faktor lain serta yang paling penting, adalah manusia itu sendiri. Semakin moderen suatu teknologi, di situ pulalah manusia mulai merasakan kemudahan menjalin hubungan lewat komunikasi tak berbatas pagar. Kesempurnaan untuk mengakses interaksi ini merupakan pisau bermata dua. Mengapa? karena bila tidak di iringi dengan kemampuan sosial asosiatif yang baik, maka teknologi dapat menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.

Gadget addict yang mempunyai kekurangan fatal bagi sosial

Rasa kesendirian, timbul semakin kental ketika kita merasa bahwa orang di sekitar dan di dekat kita tidak ada yang memahami kita. Sedangkan melalui teknologi salah satunya media sosial, kita bisa membuat akun di berbagai wadah dengan identitas palsu namun berjati diri asli. Lihatlah di sekeliling kita. Betapa banyak mereka yang mengaku bahwa mereka lebih nyaman dan menjadi diri mereka sendiri di dunia maya. Betapa mereka mengeluhkan hubungan nyata mereka dengan orang-orang di dekat mereka. Betapa banyaknya kebencian yang mereka dengungkan terhadap kehidupan di sekitar mereka. Ini bukanlah masalah apakah hal ini baik atau buruk, karena semua tergantung kembali dengan kebijakan pengguna masing-masing. Namun, fakta bahwa kini sosial media merupakan salah satu dari banyak faktor penyebab depresi dan kecemasan, tak bisa kemudian terabai begitu saja.

Ketika kita sudah terbiasa menggunakan akun asli maupun palsu di Facebook, Twitter, Instagram, dan sebagainya tetapi dengan jati diri yang tidak pernah kita nampakkan ke lingkungan sosial kita, maka kita akan merasakan kesepian secara otomatis di dunia nyata karena sudah secara otomatis otak kita memprogram pertahanan diri. Sebuah mekanisme pertahanan yang mengatakan bahwa tidak-ada-yang-memahami-diriku-kecuali-teman-teman-dunia-maya-ku. Lubang setan inilah yang bahkan tak berusaha kita lawan. Yang bahkan justru semakin kita gali dan terus gali.

Jenis Kesepian Yang Perlu Kita Sadari

“Aku bahkan merasa sepi, tidak utuh di lingkunganku. Aku merasa berjuang sendirian tanpa pernah ada yang mengerti.” Sebuah kalimat yang di ungkapkan rekan wanita saya ini adalah salah satu alasan kontemplatif akan mengapa saya menulis artikel ini. Bahwa seorang wanita yang saya sungguh kenal dekat dengan beragam keramaian lingkaran persona di sekitarnya, perekonomian yang lebih dari cukup, pasangan asmara yang dengan mudahnya dapat ia pilih, melambangkan satu hal :

Kesepian, depresi, dan berbagai penyakit mental lainnya tidak pandang bulu.

Sekelompok data ini menunjukkan bahwa rerata sekitar 59% dari responden dewasa, merasakan bahwa minat dan idenya tak bisa di bagikan apalagi dibahas di sekeliling mereka. Sekitar 56% dari para responden juga merasa bahwa orang-orang yang berada di sekitar mereka tidaklah benar-benar “ada” untuk mereka. Bahkan bila ditelaah lebih jauh, rasa malu, rasa dicampakkan, relasi yang dirasa tak bermakna, dan perasaan isolatif juga mempunyai ranahnya sendiri di dalam survey tersebut. Sebuah survei kecil-kecilan di laman facebook pribadi penulis menunjukkan bahwa ada hal yang sangat kita jarang sadari tentang kesepian yakni kita dapat merasakan kesepian dalam keramaian.

Lebih lanjut lagi, ada beberapa jenis kesepian yang bisa kita pelajari lebih jauh yakni :

A.   Gres-Situasi Kesepian

Ketika kita pindah kantor, pindah rumah, pindah sekolah, maupun berpindah ke lokasi maupun situasi yang baru, kesendirian ini dapat kita rasakan secara mendadak.

B.    Self-Diferensi Kesepian

Anda sedang berada di tempat yang sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi Anda, namun ada orang-orang baru maupun asing yang entah bagaimana membuat Anda merasa terisolir. Anda merasa bahwa Anda adalah seorang yang agamis, dan orang-orang di sekitar Anda tidak mau membahasnya maupun sebaliknya. Anda menyukai sastra, namun mereka tidak atau sebaliknya. Anda penyuka Kangen Band, namun mereka tidak atau sebaliknya. Perasaan ketika kita sulit mengkomunikasikan hal yang penting atau yang kita sukai kepada orang lain juga merupakan salah satu penyebab rasa kesepian.

C.     Aromantik Kesepian

Bahkan ketika kita memiliki hubungan yang dekat dengan berbagai macam orang dari latar belakang, semuanya itu tak lagi berarti ketika kita tak mempunyai hubungan romantis maupun rasa perhatian dari seorang kekasih. Ketika mempunyai kekasih pun, kita juga dapat merasakan hal yang serupa ketika suplai emosional dan perhatian yang kita harapkan ternyata tak juga kita dapatkan.

D.    Nirwaktu Kesepian

Dengan berbagai impiannya yang beragam, sudahlah wajar rasanya ketika manusia selalu berusaha untuk mencapainya. Sehingga, tak jarang pula saking sibuknya, ia tak memiliki waktu untuk sekedar menyayangi dirinya sendiri. Kesepian pun mulai timbul dan berakumulasi dari pelbagai aktivitas yang terus dan terus menumpuk.

Menghadapi Rasa Kesepian

Tim Bergling atau yang sering disebut dengan Avicii

Tim Bergling, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Avicii, adalah salah seorang disk jockey favorit penulis semenjak tahun dua ribu sebelas. Dia sepertinya memiliki segalanya. Uang, popularitas, fans, lagu yang enak, sahabat, kesuksesan, hingga kemudian dua puluh April kemarin berita mengeluarkan pernyataan bahwa Avicii telah bunuh diri. Keluarga mengadakan konferensi pers dengan kalimat yang sangat perlu kita garis bawahi dengan pena merah :

“Sebelum bunuh diri, Tim terlihat ceria. Seringkali tersenyum. Dia memiliki pribadi yang sangat hangat. Kami tak pernah menyangka dia akan bunuh diri.” Manusia merupakan makhluk yang kompleks, yang saking kompleksnya mereka pun terkadang tak bisa menerjemahkan apa yang ia rasakan sendirian. Bahwa topeng penuh senyuman dan kehangatan, terkadang adalah topeng terakhir yang bisa kita pakai untuk sekedar melanjutkan hidup. Perlu kita sadari sebagai seorang zoon politicon atau makhluk sosial, kita selalu perlu peran dari orang lain. Kita tak bisa hidup sendirian. Kita perlu membuka diri. Lalu, bagaimana cara kita menghadapi rasa kesepian ini?

 A. Sadari Bahwa Rasa Kesepian Ini Adalah Hal Manusiawi

Emosi maupun keadaan mental kita adalah sesuatu yang sangat cair. Kita bisa berubah dari senang menjadi sedih, sedih menjadi senang dalam hitungan detik. Sadari bahwa ini adalah hal yang normal. Begitu pula kesepian. Tak akan ada orang yang tak pernah merasakan kesepian. Mekanisme emosi kesepian yang tak nyaman ini, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri kita ini. Seperti rasa sakit, rasa kesepian adalah tanda untuk kita melindungi diri kita sendiri atas apa yang terjadi dari dalam maupun luar.

B. Jujur Akan Apa Yang Kita Rasa

Kesampingkan dulu masalah eksistensi. Masalah siapa diri Anda yang sebenarnya. Apa yang Anda rasakan, ungkapkan lah tanpa rasa takut asalkan di lingkaran yang tepat. Carilah orang yang tepat dan terpercaya akan apa yang Anda rasakan. Jika tidak ada? Lanjutkan ke poin nomor C.

C. Bentuk atau Cari Lingkaran Sosial Baru

Perasaan manusia untuk dipahami dan di sepakati merupakan salah satu hal yang penting untuk membuat manusia tetap hidup. Dengan berkenalan kepada orang yang baru, dapat membawa Anda ke lingkungan yang baru dan lebih baik pula. Jika dirasa sulit, lanjutkan ke poin D.

D. Ungkapkan Lewat Berbagai Media

Entah itu jurnal, buku harian, media sosial, maupun banyak hal lain, manusia sesungguhnya merupakan mahkluk yang banyak dengan ide dan solusi bagi masalah-masalahnya. Menuangkan luapan perasaan pada kadar yang pas dan tidak berlebihan merupakan sedikit dari banyak solusi. Bahkan di banyak kasus, hanya mendengarkan orang lain saja dapat mengurangi rasa kesepian.

Segala hal yang ingin kita ungkapkan dengan rasa kesepian, merupakan sebuah jeritan untuk dipahami orang lain. Jujur apa adanya, merupakan hal yang baik untuk mengawali sebuah relasi dengan diri kita sendiri. Kehidupan memang beginilah adanya. Klise memang, bahwa rodanya terkadang membuat kita merasa di bawah maupun di atas, namun hal perlu kita sadari adalah selalu ada yang bisa kita lakukan karena semuanya tidaklah permanen. Semuanya bisa kita ubah.

Dan pengubahan itu, kita awali dari diri kita sendiri.

 

Kebahagiaan adalah sesuatu yang pasti akan kita dapatkan

Sumber utama :

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3874845/

Komentar

comments

Related posts

Beberapa Pintu Masuk ke Dunia Filsafat

Olive Hateem

Dwilogi Penghadapan Postpartum Depression (Bagian 1): Pengenalan PpD dan Pola Sosial Masyarakat Kebanyakan Terhadapnya

Reza Wijaya

Romantisme Semesta dan Mengapa Sebaiknya Kita Belajar Kosmologi

Olive Hateem

Kognisi.com menggunakan fitur cookie untuk memaksimalkan pengalaman berselancar anda pada laman kami. Apabila anda tidak berkenan, anda dapat mematikan fitur ini. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
Lewat ke baris perkakas