Kognisi.com
  • Home
  • Edukasi
  • Konsekuensi Buruk Era Digital: Manusia Hidup di Dunia Nyata
Edukasi

Konsekuensi Buruk Era Digital: Manusia Hidup di Dunia Nyata

 

Jauh di mata, dekat di gawai. Istilah yang menggambarkan pemanfaatan teknologi di era digital ini, periode dimana tersebarnya gawai-gawai canggih yang saling terkoneksi hasil dari akumulasi jerih payah para inventor-inventor terdahulu untuk menyelesaikan problem jarak dalam berkomunikasi, khususnya selama 10 tahun belakangan. Di setiap sudut jalan kita tidak jarang melihat orang-orang berjalan menggenggam gawai pintar di tangannya, menandakan bahwa teknologi ini mudah diakses oleh setiap lapisan masyarakat. Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, gawai ini juga berfungsi sebagai media hiburan dan informasi bagi banyak orang. Bermain game, mendengarkan musik, mencari referensi, dan masih banyak lagi fungsi-fungsi yang akan terus berkembang nantinya.

SNS (Social Networking Sites) atau yang sering kita kenal dengan Sosmed merupakan salah satu bentuk layanan yang muncul sebagai media untuk berbagi informasi, mencari teman baru, berdiskusi, bahkan berbagi momen-momen berharga dalam hidup kita. Terdengar sangat bermanfaat bukan? Dimulai dari facebook, twitter, instagram, reddit dan forum-forum diskusi lainnya menawarkan efisiensi kepada setiap orang untuk bercengkrama dari jarak yang jauh melalui gawai yang dimilikinya tanpa harus membuang-buang waktu menempuh jarak yang sangat jauh. Hanya saja, kita perlu mengakui juga bahwa SNS saat ini sudah menjadi alternatif realitas lain yang sedikit demi sedikit menggantikan peran interaksi dengan lingkungan sosial di sekitar kita. Tentunya ada konsekuensi yang harus diterima oleh manusia pada era digital ini dengan pemanfaatan gawai-gawai canggihnya, dan semuanya tidak selalu baik.

Ada resiko kecanduan

Ketika melakukan suatu kegiatan yang menyenangkan, otak manusia memiliki kemampuan untuk melakukan sekresi atau pelepasan zat kimia dalam tubuh yaitu hormon dopamine yang berfungsi sebagai stimulus perasaan puas. Tingkat kepuasan ini mengikuti konsentrasi sekresi hormon dopamine sehingga semakin banyak sekresi dopamine maka kita akan semakin merasa puas. Tapi perlu diingat, kegiatan yang berulang kali dilakukan akan mengurangi sekresi dopamine sehingga standard kepuasan akan berubah. Perubahan inilah yang akan mengakibatkan kecanduan pada kegiatan menyenangkan yang dilakukan secara kompulsif.

Pada kecanduan SNS, awalnya seseorang akan merasa senang karena telah berkomunikasi dengan beberapa teman. Selanjutnya karena telah dilakukan secara berulang-ulang, maka dia akan meningkatkan kuantitas lingkaran pertemanannya, bergabung dengan forum-forum yang diminatinya, berdiskusi membahas hal-hal yang digemarinya, dan terus menerus dilakukan sehingga muncul gejala-gejala yang hampir sama dengan pengkonsumsi obat, alkohol dan nikotin. Yang paling parah jika terjadi withdrawal effect ketika dijauhkan dari objek adiksinya, dalam hal ini adalah SNS. Perlu diketahui juga kecanduan ini sudah termasuk sebagai gangguan kejiwaan dalam DSM-V dan ICD-10 jika memenuhi kriteria yang disebutkan di dalamnya. Tentunya penelitan lebih lanjut masih dilakukan sampai detik ini.

Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat

Sudah jelas bahwa penggunaan SNS yang berlebihan dan kompulsif juga akan mengurangi intensitas interaksi dengan lingkungan sekitar, contohnya dengan keluarga. Pada tahun 1998, Kraus dkk mempublikasi penelitannya bahwa internet mempengaruhi hubungan sosial dan masyarakat.

Dan seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan SNS yang semakin mudah diakses memberikan pandangan yang lebih terang bahwa ada kesenjangan antara intensitas komunikasi interpersonal seseorang dengan lingkungan sekitarnya akibat dari meningkatnya waktu yang dihabiskan untuk mengakses SNS. Contoh kecil ketika seseorang sedang menghadiri kegiatan keluarga, alih-alih menciptakan momen yang menjadi ajang untuk saling mempererat hubungan persaudaraan, orang tersebut lebih memilih sibuk berselancar di SNS.
Tentu saja ini merupakan suatu permasalahan yang cukup dilematis, luasnya cakupan akses komunikasi yang disediakan SNS bukan untuk menggantikan sepenuhnya interaksi interpersonal dengan lingkungan secara langsung. Tapi di sisi lain SNS ini dapat memperluas pandangan dan menambah relasi yang cukup bermanfaat bagi perkembangan wawasannya.

Manusia memiliki kendali penuh

Sejatinya, teknologi yang diciptakan manusia seperti gawai dan layanan SNS ditujukan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan dan pekerjaan masyarakat luas. Manusia memiliki kendali penuh atas apa yang diciptakannya. Jangan khawatir akan kepintaran gawai yang ditakutkan akan membuat manusia semakin bodoh dan malas, bukan itu tujuannya. Manusia memiliki keunggulan dibandingkan dengan mesin, yaitu kebijaksanaan. Penggunaan alat-alat berteknologi canggih sesuai dengan nilai-nilai masyarakat sekitar sudah menjadi cakupan dari kendali kebijakan manusia.

Adapun cara untuk menghindari konsekuensi buruknya adalah dengan tidak menyerahkan seluruh kehidupannya kepada dunia virtual semacam SNS. Kita sangat mampu untuk menggunakan sewajarnya dengan tujuan yang jelas dan menyeimbangkan dengan mengisi kegiatan produktif di lingkungan sekitar. Yang terakhir dan paling penting sekarang adalah, kita harus berjalan menghampiri, memulai percakapan, dan merangkul orang-orang yang ada di samping kita, karena kita hidup dalam dunia nyata.

 

Source :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4183915/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4491543/

Komentar

comments

Related posts

Masih Relevankah Sebuah Keharusan Menjadi Seorang PNS Masa Kini? 

Nova Damar

Kuasa Sastra (Bagian 2 dari 3)

Aura Asmaradana

Dwilogi Penghadapan Postpartum Depression (Bagian 1): Pengenalan PpD dan Pola Sosial Masyarakat Kebanyakan Terhadapnya

Reza Wijaya

Kognisi.com menggunakan fitur cookie untuk memaksimalkan pengalaman berselancar anda pada laman kami. Apabila anda tidak berkenan, anda dapat mematikan fitur ini. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
Lewat ke baris perkakas