Kognisi.com
  • Home
  • Persepsi
  • Mengenal Magic Coffee: Dari Melbourne Untuk Dunia
Persepsi

Mengenal Magic Coffee: Dari Melbourne Untuk Dunia

Magic coffee? Dari namanya saja sudah asing di telinga, kan? Untuk kita yang fine-fine saja dan menganggap semua kopi itu, ya kopi, tentu istilah magic ini sangat aneh. Apakah dengan magic coffee kita bisa terbang, kembali ke masa lalu, atau melakukan hal hal magis lainnya? Tentu tidak. Magic coffee, pada hakikatnya, tetap saja hanya kopi.

Melbourne, Australia.

Kopi bisa dibilang minuman yang paling digemari hampir seluruh umat manusia di dunia ini. Mari kita agak mundur sedikit untuk membahasnya dari awal. Dimulai dari perjalanannya di tahun tahun sebelum masehi, dari Kaldi, seorang pria legendaris dari Ethiopia yang menggembalakan kambing. Saya tidak akan melanjutkannya karena mungkin jika anda barista, dan anda sudah muak mendengar dongeng ini di setiap awal kelas training. Setelah Kaldi memberikan kopi kepada tabib sufi, kopi menyebar di Arab, masuk Eropa, kemudian diharamkan karna identik dengan pemberontak, pemikir, dan Islam. Namun kopi tidak berhenti, mereka menyebar. Ke benua Amerika, kembali ke Eropa, dan dibawa kolonial untuk ditanam di Indonesia.

Tiap bangsa di dunia punya caranya sendiri untuk menikmati kopi. Kita dengan kopi tubruk dan varian lainnya (luwak atau arang, anyone?). Perancis, Turki, sampai Vietnam juga punya varian minuman kopi mereka. Tapi tentu saja, yang paling maju dan terkenal ke seluruh dunia adalah style Italia, mesin espresso yang ditemukan di era 1800-an. Sebuah penemuan yang berkelas dan elegan untuk sekedar menikmati kopi. Yang mungkin saja, gagasan ini tak akan pernah terpikirkan oleh bangsa kita. Di kemudian hari, mesin espresso menjadi perangkat wajib oleh seluruh coffeeshop di belahan dunia.

Kopi yang digiling. Standar pengolahan kopi kebanyakan.

Sebagaimana kopi terus bertambah penggemarnya, seluruh coffeshop berlomba untuk membuat varian minuman dari mesin espresso. Italia, masih menjadi tolak ukur dengan espresso, doppio, caffe macchiato, latte machiatto, caffe latte, dan yang paling khas adalah cappuccino. Tentara amerika menambahkan air panas pada espresso mereka dan terciptalah caffe americano. Spanyol dan Portugal membuat istilah istilah tandingan untuk kopi gaya Italia, yang sebenarnya hampir sama, dengan sedikit modifikasi, dan terciptalah Cortado, Gibraltar, ataupun Galao.  Australia, dengan komunitas kopi di Melbourne yang maju begitu pesat dalam dekade terakhir, membuat pembaharuan.

Proses perpindahan rombongan imigran asal Italia ke Australia sedikit banyaknya mempengaruhi betapa bisingnya perkembangan ilmu pengetahuan kopi di Australia. Pernah dengar Long Black? sama saja dengan Americano, hanya saja, jika Americano adalah air panas yang dituang ke dalam cangkir berisi espresso, Long Black kebalikannya. Saya dengar, tujuan utamanya adalah agar crema hasil ekstraksi tidak rusak. Rasanya? Buat saya sama saja. Flat White? Flat White adalah solusi orang orang Australia (atau Selandia Baru, karena mereka masih memperdebatkannya) untuk menikmati cappuccino tanpa foam yang terlalu tebal. Cappuccino klasik berbeda dengan sekarang, dulu foam-nya sangat tebal dan kadang mengganggu kegiatan menyeruput.

Magic coffee adalah trend terbaru. Jika kalian berpikir kalau sekarang saat yang tepat untuk menjelaskannya, mari kita membahas soal espresso dulu. Espresso sendiri bisa dibilang induk atau dasar pondasi dari semua varian kopi yang dihasilkan dengan mesin espresso. Mau minum kopi dengan tekstur susu yang lembut, tampilan sedap di mata untuk kalian posting di Instagram? Pesanlah latte, cappuccino, atau flat white. Maka espresso akan dibuat terlebih dahulu, lalu susu di-steam dan dituang ke dalam cangkir berisi espresso. Mau minum kopi yang punya cita rasa kuat, macho, sambil merokok dan mengetik pemikiran pemikiran di laptopmu? Pesanlah Americano. Lagi-lagi, barista akan membuat espresso terlebih dahulu.

Pada era sekarang, trik-trik untuk membuat espresso terbaik selalu digali dan dieksplor oleh tiap coffeeshop. Baik itu soal pemilihan jenis biji kopi, pemilihan metode pengolahan, dan level roastingnya. Ribet? Iya. Tidak berhenti sampai di sana. Sampai di coffeeshop, biji akan dicoba coba lagi dengan mengubah setting grinder, temperature mesin, jumlah bubuk kopi yang digunakan untuk satu kali shot, durasi untuk satu kali proses ekstraksi, dan sampai pemilihan air yang akan digunakan.

Jika dikomparasi dengan sepak bola, espresso adalah permainan kolektif untuk menciptakan gol yang indah. Dari petani kopi sebagai pemain bertahan yang memulai operan, roaster sebagai gelandang yang mengumpan bola, dan barista sebagai eksekutornya. Golnya bukan sekadar gol. Tidak hanya menjadi espresso. Namun menjadi gol yang indah, espresso yang sempurna. Yang memiliki rasa yang seimbang antara asam, manis, dan pahit.

Lalu kemudian timbul gagasan, Bagaimana jika kamu ingin menikmati espresso dengan hanya menonjolkan karakteristik bijinya? Bagaimana jika kamu ingin menikmati espresso tanpa harus menyertakan rasa pahit? Dari sinilah muncul ristretto. Ristretto adalah saudara dari espresso. Ristretto menggunakan jumlah bubuk kopi yang sama namun perbedaannya adalah setting grinder yang lebih halus, atau jumlah air yang lebih sedikit saat proses ekstraksi, tergantung di coffeshop mana kamu bertanya. Hasilnya, adalah ekstraksi kopi yang lebih sedikit dari espresso namun lebih menonjol dalam karakteristik jenis biji kopi yang dipakai. Perbedaannya dengan espresso? Rasanya lebih soft dan cenderung tidak pahit. Apa bedanya dengan weak atau half shot espresso? Tentu saja dari segi kepahitan. Pada dasarnya half shot espresso adalah espresso dengan segala karakternya yang dibagi menjadi dua, sedangkan ristretto tetaplah ristretto.

Bagimana dengan mereka yang menyukai kopi dengan susu? Beberapa penikmat kopi yang minum kopi dengan susu lumayan sering perharinya, dan menginginkan rasa yang lebih lembut dan jumlah susu yang lebih banyak dari macchiato, namun tidak nyaman dengan jumlah susu yang terlalu banyak, akan memilih piccolo latte. Piccolo latte tidak menggunakan espresso, melainkan ristretto dan disajikan di gelas macchiato. Piccolo latte bisa berarti latte kecil. Kombinasi antara keempukan susu di lidah dan rasa kopi yang lebih ringan menjadikan piccolo latte favorit di antara barista dan penikmat kopi untuk memulai pagi. Ingin mulai bekerja, namun nanti siang ingin minum kopi lagi? Pesanlah piccolo. Jika kamu barista, baru masuk kerja, dan ingin minum kopi sambil mengetes setting mesin dan kualitas kopimu? Buatlah piccolo. Simple bukan? Sekarang kita akan masuk ke magic coffee.

Magic berangkat dari keinginan orang-orang untuk menikmati kopi yang simple dengan rasa yang lebih kuat dari piccolo namun tidak ingin sekuat kopi yang memakai espresso.

Maka ditambahlah shot ristretto di dalam cangkir. Dua shot ristretto yang kemudian dituang susu yang di-steam. Ini sempurna. Inilah magic coffee. Berasal dari komunitas kopi di Melbourne yang terus menerus menggeliat, awalnya magic tidak ada di menu. Magic disebarkan dari mulut ke mulut, seakan akan menjadi sandi antar barista. Magic perlahan lahan berkembang menjadi semacam prestige antara penikmat kopi yang memberi kesan, aku tahu trend terbaru di antara kalian para barista. “Saya pesan satu magic!”, kata pengunjung dengan suara lantang sambil memberikan ekspresi apakah-kamu-mengerti-maksudku. Barista yang kurang update akan kebingungan dan berpikir pengunjungnya sudah gila. Barista yang update akan tersenyum dan dengan bangga membuatnya sambil menikmati wajah rekan kerjanya yang memandangnya heran.

Voila! Magic Coffee!

Seiring meningkatnya popularitas magic. Beberapa coffeeshop di Australia mulai memasukkannya dalam menu. Tak berhenti disana, magic merambah sampai ke Britania Raya. Beberapa media kopi mulai membahas apa itu magic dan kelebihan magic dibandingkan dengan varian lain. Beberapa coffeeshop memberi susu hanya tiga perempat cangkir untuk seporsi magic. Bisa dimengerti dengan pertimbangan barista ingin menjaga rasio susu dan kopi sebagai salah satu karakteristik utama magic, namun belum ada cangkir khusus. Bagaimana dengan Indonesia? Di Bali, begitu banyaknya tourist dan expat dari Australia pada umumnya dan Melbourne pada khususnya memberikan andil besar terhadap popularitas magic. Di daerah kota kota besar lain di pulau Jawa dan Sumatra, bisa dibilang coffeeshop yang mengikuti perkembangan trend internasional sudah mulai memasukkannya ke menu. Bisa saja, setelah membaca ini kalian jadi penasaran dan ingin mengecek apakah coffeeshop langgananmu sudah memasukkan magic dalam menu mereka. Kalau belum, kalian bisa memesan magic dan mengecek apakah baristanya kebingungan atau langsung membuatnya dengan wajah aku-mengerti-dan-aku-update.

Selamat menikmati magic coffee!

 

   

Komentar

comments

Related posts

Travelling? Ini Yang Perlu Kita Siapkan!

Dewi Vidottir

Review Film Wiro Sableng 212 (2018): Kebangkitan Legenda Pop-culture era 90-an

Ajin N.R

Sekelebat Tulisan Tentang Mode Pakaian

Ayu Amelia

Kognisi.com menggunakan fitur cookie untuk memaksimalkan pengalaman berselancar anda pada laman kami. Apabila anda tidak berkenan, anda dapat mematikan fitur ini. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
Lewat ke baris perkakas