Kognisi.com
Edukasi

Manusia dalam Menghadapi suatu Pengalaman (Bagian 1): Bias Negatif yang Melelahkan Otak

 

Kepala kita mungkin akan terasa berpendar seolah terkena migrain akut karena munculnya permasalahan-permasalahan secara bertubi-tubi tanpa kenal ampun, tidak hadir bersamaan dengan solusi. Sentimen lingkungan yang carut-marut dan bertolak belakang dengan ide-ide dalam tengkorak kepala tentunya akan memberikan begitu besar tekanan pada psikis kita yang selalu bergulat melawan iklim di sekitar.

Sialnya, jika kita terlarut dalam nuansa tersebut, yang menanti adalah kemunculan pertentangan-pertentangan lain tanpa berujung. Sebagai manusia yang memiliki kesadaran, tentu kita akan berusaha menghindari setiap ancaman—fisik maupun psikis—guna mewujudkan kehidupan yang efektif dengan mencari upaya dalam mengentaskan permasalahan tersebut. Kondisi inilah yang memicu bias negatif dalam mengambil suatu keputusan.[1]

Pada situasi pemilihan presiden, alih-alih memilih kandidat berdasarkan program yang ditawarkan atau visi dan misi yang dijabarkan, orang-orang akan lebih mudah menjatuhkan pilihan pada seorang kandidat dengan dasar menghindari pilihan kandidat lain dengan latar belakang, skandal, dan informasi-informasi negatif lain.  Dalam persepsi orang-orang, keburukan dan kekurangan dapat menjadi ancaman, sehingga mereka memilih the lesser evil.

Contoh lain, seseorang akan berusaha semaksimal mungkin menghindari kerugian dalam berbisnis dibanding mendapatkan keuntungan lebih—karena perasaan menyakitkan karena kehilangan memiliki kekuatan emosi yang lebih besar dibandingkan perasaan senang.[2]

Fenomena bias negatif ini terjadi pada manusia ketika ia berada di situasi yang sulit dan dihadapkan dengan beberapa pilihan. Otak manusia akan lebih mudah menerima rangsangan-rangsangan dari pengalaman negatif dibandingkan dengan rangsangan-rangsangan dari pengalaman positif. Sekecil apapun pengalaman negatif yang diterima, orang-orang akan lebih fokus terhadapnya.

Beban pada Otak dan Resiko Depresi yang Mengganggu

Dalam kajian yang lebih khusus, pengaruh dari bias negatif ini juga akan diterima oleh otak sebagai event-related brain potentials (ERPs) yang lebih membebani dibandingkan dengan rangsangan akan pengalaman positif atau netral.[3]

Diagram tentang negatif bias. Bahwa dampak dari pengalaman positif, bisa selalu dikalahkan oleh dampak pengalaman negatif walau kadarnya sama.

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa amplitudo otak dalam menghadapi pengalaman negatif lebih besar dibandingkan amplitudo pada pengalaman positif dan netral. Kemudian, turun pada kondisi amplitudo yang ekstrim pada interval waktu yang sama. Yang artinya, otak akan menerima beban yang lebih besar dari bias negatif.

Selain itu menurut Dr. Rick Hansen,[4] bagian amygdala pada otak menggunakan sekitar dua pertiga neuron untuk mencari berita buruk (negatif). Pengalaman negatif ini kemudian lebih cepat disimpan dan ditransfer dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang dibandingkan pengalaman positif yang membutuhkan waktu kurang lebih selusin detik.

Beban yang diterima oleh otak atas rangsangan dan pengalaman negatif tentunya menimbulkan dampak secara psikis terhadap manusia. Salah satunya adalah tingginya resiko depresi akibat reaksi terhadap emosi negatif.[5] Depresi inilah yang akhirnya akan menjadi salah satu gangguan pada keefektifan hidup kita, dan menawarkan solusi-solusi irasional dalam menyikapi suatu permasalahan. Suicidal ideation biasanya kemudian muncul sebagai tahap untuk melarikan diri dari masalah.

Lingkaran Setan dari Bias Negatif

Memang benar, bias negatif ini dapat dipandang sebagai fenomena yang wajar dan biasa saja terjadi pada manusia. Tapi yang jadi permasalahannya adalah, sampai kapan kita akan terjebak oleh arusnya? Dengan memandang hidup dari sisi yang negatif, apakah kita akan mengalami ketenangan dalam hidup? Tentunya ini yang jadi pertanyaan besar.

Tapi dalam konteks yang lebih ekstrim, yang juga jadi pertanyaan menggelitik kerongkongan adalah, jangan-jangan ada orang yang tidak menginginkan ketenangan dalam hidupnya? Apakah ketika melihat kesuksesan orang lain atas prestasinya, alih-alih menjadi referensi dan motivasi untuk meraih tingkat kesuksesan yang sama, seseorang justru lebih memilih untuk mengorek kebobrokan orang tersebut dari sudut pandang negatif untuk meruntuhkan apa yang telah dia raih? Atau contoh lain, apakah ada yang lebih memilih genosida setengah populasi suatu daerah demi mengakhiri suatu krisis sumber daya dibandingkan berusaha mengolah, mendaur ulang dan mengumpulkan sumber daya tersebut secara efisien?

Saya pikir tidak. Karena jika sudah berada pada taraf ini, maka ada kecenderungan bahwa kehidupannya sudah terperosok pada palung bias negatif.

Dengan hidup yang kurang efektif, biasanya seseorang cenderung melihat dunia dari sisi yang negatif. Tidak dapat dipungkiri, dengan melihat dunia dari sisi negatif, kita akan mendapatkan rangsangan dari pengalaman negatif yang menghasilkan beban pada otak, yang kemudian beresiko depresi yang mengganggu keefektifan hidup. Ini kemudian menjadi lingkaran setan yang terus menerus berputar menjadi sebab-akibat, tidak berujung dan tidak ada habisnya.

Tapi bukan berarti mustahil untuk mengurangi intensitas bias negatif yang tidak perlu. Kita memiliki kemampuan sebagai manusia untuk mengalihkan sejenak pandangan kita menuju sisi yang lebih baik. Memiliki sikap dan pikiran yang lebih memandang sisi positif dibandingkan harus terkungkung dalam gagasan yang melelahkan.

Tapi, yang menjadi problematika dalam berpikir positif ini akan muncul istilah lain, yaitu overpositive thinking, atau bahkan toxic positivity. Apakah benar bahwa sikap dan pemikiran positif dapat menjadi racun dalam kehidupan bermasyarakat?

Pembahasan mengenai sikap dan pandangan pada sisi positif ini tentunya akan dibahas secara rinci di bagian berikutnya. Cheers!

[1]https://www.psychologytoday.com/us/articles/200306/our-brains-negative-bias

[2]https://www.nngroup.com/articles/prospect-theory/

[3]https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9825526

[4]https://www.psycom.net/negativity-bias

[5]https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21796742

Penulis: Ajin. N.R
Editor: Aura Asmaradan & Olive Hateem
Artwork: Ajin N.R
Tata Letak: Reza W.

Komentar

comments

Related posts

Marley dan Musiknya Yang Mengantar Kita kepada Keadilan Paripurna

Aceng Handayani

Pada Mulanya Adalah Krites (Bagian 1 dari 3)

Aura Asmaradana

Survival Kit: Elemen Persiapan Bencana Yang Sering Terlupa

Olive Hateem

Kognisi.com menggunakan fitur cookie untuk memaksimalkan pengalaman berselancar anda pada laman kami. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
Lewat ke baris perkakas