Kognisi.com
  • Home
  • Persepsi
  • Mission: Impossible – Fallout ; Kumis Henry Cavill Yang Terbayar Tuntas!
Persepsi

Mission: Impossible – Fallout ; Kumis Henry Cavill Yang Terbayar Tuntas!

 MISSION: IMPOSSIBLE – FALLOUT

 

Director           : Christopher McQuarrie

Cast                 : Tom Cruise, Henry Cavill, Simon Pegg, Ving Rhames,  Rebecca Fergusson, Sean Harris, Alec Baldwin, Michelle Monaghan

PH                    : Bad Robot, Paramount, Skydance

Runtime          : 147 minutes

 

“The greater the suffering, the greater the peace”.

 

Kalau kita cocoklogi quotes penjahat di atas dengan serangkaian insiden yang menimpa 2 aktor utamanya, mungkin cedera kaki Tom Cruise dan drama kumis Henry Cavill bisa dianggap Solomon Lane tersendiri bagi Christopher McQuarrie cs pada pra-produksi seri ke-6 film agen IMF ini. Tapi apakah mereka berhasil mengalahkan “para penjahat” itu di depan mata mayoritas penonton termasuk para kritikus?

 

Well, Harus diakui mereka berhasil “membunuh para penjahat” itu dengan cara yang cerdas dan tidak medioker.

 

Dimulai dengan adegan manis pernikahan Ethan Hunt (Thenever aging” Tom Cruise) bersama istrinya, Julia (Michelle Monaghan), yang berakhir apokaliptik hanya untuk membuat Ethan Hunt terbangun dari mimpinya lalu teringat akan musuhnya di Rogue Nation, Solomon Lane (Sean Harris).

 

Tak cuma itu. Kali ini Ethan, Benji (Simon Pegg) dan Luther (Ving Rhames) masih harus berjibaku melawan para elitis kejam sekaligus anti-humanity radikal yang mengancam separuh populasi manusia dengan ancaman nuklir. Lalu berhasilkah mereka menghentikan ancaman tersebut?

 

Semua itu terjawab lewat kedatangan Henry Cavil, plus jalinan cerita solid dan intrik-intrik yang dieksekusi dengan sangat matang dan detil.

 

Jujur saja, bisa dibilang film Mission: Impossible – Fallout (selanjutnya kami singkat ‘Fallout’) ini adalah tipe film yang rawan mengundang rentetan resolusi klise. Mulai dari “plot twist“ sahabat baik yang mendadak villain atau intel yang kecele akibat dipaksa menjadi melankolis, hal-hal yang bisa saja membuat penonton menguap karena seperti dipaksa menonton tutorial yang sebenarnya sudah sangat mereka hafal di luar kepala. Untungnya ‘Fallout’ memiliki Christopher McQuarrie yang teliti di bangku sutradara, sehingga hal-hal seperti itu pun dapat dihindari dengan ciamik.

 

Bagaimana tidak? Di awal cerita saja kita sudah dibuat deg-degan dengan adegan transaksi plutonium yang membuat Tom Cruise (saking synonymous-nya dengan karakter Ethan Hunt) harus memilih antara teman atau misi, yang lalu dilanjutkan dengan adegan interogasi yang menjadi homage untuk film Mission: Impossible I. Sebuah sequens pembuka yang intens dan menjadi jembatan keren menuju theme song gubahan Lalo Schifrin yang pastinya sudah terngiang di telinga siapapun.

 

Belum lagi aksi adu backlash cerdik antara Tom Cruise dkk dengan para villain, mulai dari menenggelamkan mobil tahanan hingga memalsukan wajah yang sudah menjadi tradisi. Semua terjalin apik dengan permainan ekspektasi serta emosi yang terukur. Karena bisa dibilang, ‘Fallout’ seperti sengaja memancing penonton “merasa pintar” untuk seketika dimentahkan kembali dengan lebih pintar oleh Christopher McQuarrie. Strategi yang patut diacungi jempol mengingat film ini tidak memiliki twist besar untuk memuaskan penonton (tidak seperti Mission: Impossible atau Mission: Impossible III).

 

Adegan di tengah udara seperti ini merupakan makanan sehari-hari Om Tom.

 

Namun apalah Mission: Impossible tanpa adanya parade aksi-aksi indah nan mengerikan. Disini Christopher McQuarrie-pun menunjukan keberaniannya tanpa tanggung-tanggung. Mulai dari adegan parasut di tengah-tengah awan commulonimbus lengkap dengan geledek petirnya, adegan kebut-kebutan yang sangat cepat sehingga membuat kami tak kuasa meremas kursi ketika silih berganti mobil berdatangan dari arah berlawanan, hingga pertempuran Helikopter yang dimainkan sebagai klimaks.

 

Motoran tanpa helm, di tengah kota, melawan teroris. Sip !

Bahkan adegan baku hantam di toilet pun terasa amat brutal jika dibandingkan adegan baku hantam di seri-seri Mission: Impossible sebelumnya. Adegan yang sekilas mengingatkan kami akan the infamous pembukaan film Casino Royale di mana Daniel Craig menjedoti kepala begundal ke wastafel hingga pecah, namun ditambah lelucon “gay”. Adegan lompat gedung pun patut diberi tepuk tangan sebagai bentuk penghormatan khusus terhadap kaki Tom Cruise.

Ini di toilet betewe -_-

 

Dan di samping jalinan cerita yang solid dan aksi yang memukau, ‘Fallout’ ternyata juga mampu memunculkan kolektivitas performance yang menawan. Mulai dari Tom Cruise yang tidak perlu diragukan lagi komitmennya, Simon Pegg dan Ving Rhames yang mampu menyeimbangkan ketegangan ‘Fallout’ dengan lelucon out of place mereka, ditambah Rebecca Ferguson yang membuat dinamika konflik makin ruwet sekaligus menantang lewat hubungannya dengan Tom Cruise.

 

Henry Cavil-pun berhasil membuktikan totalitasnya sebagai villain yang memorable disini. Dengan kombinasi sifat narsistik, humoris dan ‘sok-sok-an’, iapun berhasil mempermainkan keyakinan penonton terhadap statusnya sebagai villain. Hal itu bisa kita lihat lewat betapa klop-nya ia sebagai “sidekick” Ethan Hunt yang annoying tapi juga menghibur. Ini merupakan prestasi yang cukup membanggakan mengingat penjahat yang memorable sebelumnya menjadi titik lemah dari seri-seri Mission Impossible terdahulu.

 

Singkat kata ‘Fallout’ akhirnya tidak hanya mampu menghibur penonton dengan tontonan yang berkualitas, intens, menegangkan sekaligus jenaka, namun juga mampu memantapkan posisinya di deretan atas franchise agen serba bisa ini. Dan ketelitian Christopher McQuarrie pun akhirnya mampu membuat Tom Cruise lagi-lagi berhasil membuat kami bernafas lega dari ancaman teror.


Saya, Izfah Sebastian dari Kognisi merekomendasikannya untuk Anda.

 

And by the way, ada yang tahu kemana Jeremy Renner?

Sibuk di Avenger kali yak?

 

Nilai kami : 8 dari 10.

     

Komentar

comments

Related posts

Album Terakhir Dewa 19, Apakah Mungkin?

Antho Oktapianto

Mengenal Magic Coffee: Dari Melbourne Untuk Dunia

Setyono Hardi

Review Film Wiro Sableng 212 (2018): Kebangkitan Legenda Pop-culture era 90-an

Ajin N.R

Kognisi.com menggunakan fitur cookie untuk memaksimalkan pengalaman berselancar anda pada laman kami. Apabila anda tidak berkenan, anda dapat mematikan fitur ini. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
Lewat ke baris perkakas