Kognisi.com
  • Home
  • Edukasi
  • Pada Mulanya Adalah Krites (Bagian 1 dari 3)
Edukasi Literasi

Pada Mulanya Adalah Krites (Bagian 1 dari 3)

(Disadur dari bagian Classical Literary Criticism: Intellectual and Political Backgrounds dalam buku A History of Literary Criticism oleh M. A. R. Habib halaman 9-18)

Kritik(critics) berasal dari krites, sebuah istilah Yunani kuno yang bermakna “hakim”. Jenis kritik pertama terjadi dalam proses penciptaan puisi itu sendiri. Puisi disusun, penyair membuat penilaian tertentu tentang tema dan teknik yang hendak digunakan dalam syairnya, respon para pendengarnya—baik setuju maupun tidak, serta dalam kaitannya dengan pendahulunya dalam tradisi lisan atau teks. Ya, tindakan kreatif juga sebetulnya merupakan tindakan kritis yang melibatkan inspirasi, penilaian diri, refleksi, dan penilaian.

Jenis kesenian yang sifatnya penuh kesadaran juga mencakup rhapsode atau penyanyi profesional. Rhapsode melibatkan elemen penafsiran. Ia biasanya menampilkan syair-syair yang belum diciptakan. Itu adalah seni yang sangat sadar diri dan interpretatif. Beberapa gubahan terkenal seperti The Merchant of Venice (Shakespeare) dan Iliad atau Odyssey (Homer) dapat ditafsirkan dengan berbagai macam gaya—tergantung persepsi kita tentang watak dan situasi. Hal tersebut juga berlaku bagi pertunjukan puisi liris. Syair-syair dipertunjukan dengan berbagai cara, dengan beragam efek. Dalam setiap pertunjukan diutamakan kesadaran penuh danpenilaian kritis.

Dalam pengertian luas, kritik sastra dimulai sekitar 800 tahun sebelum kelahiran Kristus.

Di era itu tersebutlah penyair epik Homer dan Hesiod, penyair lirik Arkhilokhos, Ibykos, Alkaios, dan Psapfo. Periode klasik muncul sekitar 500 SM, ketika dramawan dan filsuf besar seperti Euripides, Aiskhulos, dan Sofokles; Sokrates, Platon, dan Aristoteles, the school of rhetoric, dan terbitnya fajar demokrasi dan kekuatan Athena. Setelahnya, ada periode Helenistik yang di bawah naungannya penyebaran budaya Yunani berlangsung sangat cepat lewat sebagian besar Mediterania dan Timur Tengah. Penyebaran ini dipercepat oleh penaklukan Alexander Agung, dan berbagai dinasti yang didirikan oleh para jenderalnya setelah kematiannya pada 323 SM. Di wilayah yang dihuni para Helenis, terdapat budaya kelas penguasa—yang menggunakan dialek sastra umum dan sistem pendidikan umum.

Kota Aleksandria di Mesir—didirikan oleh Alexander pada 331 SM—menjadi pusat ilmu pengetahuan. Aleksandria memiliki perpustakaan, museum besar, dan menjadi tuan rumah bagi penyair dan ahli tata bahasa terkenal seperti Kallimakhos, Apollonios Rhodios, Aristarkhos, serta Zenodotus. Kita dapat mengetahui figur-figur itu melalui karya Suetonius (sekitar 69–140 AD), yang menulis sejarah awal sastra dan kritik.

Periode Helenistik dalam catatan sejarah pada umumnya dikatakan berakhir dengan pertempuran Actium pada 31 SM. Ketika itu, Mesir sebagai sisa kekaisaran Alexander dianeksasi oleh republik Romawi yang semakin kuat dan berkembang. Setelah kemenangan di Actium, seantero Romawi berada di bawah tampuk pemerintahan tunggal keponakan Julius Caesar, Oktavianus—yang beberapa tahun kemudian dianugerahi gelar Augustus oleh Senat Romawi.

Dalam rentang waktu hampir seribu tahun, penyair, filsuf, ahli retorika, ahli bahasa, dan para kritikus menetapkan banyak istilah dasar, konsep, dan pertanyaan yang membentuk masa depan kritik sastra. Sastra terus berevolusi hingga dewasa ini. Termasuk pula di dalamnya konsep mimesis atau imitasi; konsep keindahan dan hubungannya dengan kebenaran dan kebaikan; kesatuan organik ideal karya sastra; fungsi sosial, politik, dan moral sastra; hubungan antara sastra, filsafat, dan retorika; sifat dan status bahasa; dampak kinerja sastra pada audiens; definisi kiasan seperti metafora, metonimi, dan simbol; gagasan kanon sebagai karya sastra yang paling penting; dan pengembangan berbagai genre seperti epik, tragedi, komedi, puisi liris, dan lelaguan.

Contoh kritikan periode awal tercatat dalam festival-festival drama di Athena kuno. Sebagai sebuah kontes, penyelenggaraannya menuntut penilaian resmi tentang drama nomor satu. Sebuah diskusi kritis sastra yang mencolok terjadi dalam drama Aristophanes, The Frogs—pertama kali dilakukan 405 SM, tepat sebelum berakhirnya Perang Peloponnesia pada 404 SM dalam kekalahan total Athena di tangan rivalnya, Sparta. Mungkin kelihatan aneh melihat bahwa kritik sastra di era itu digunakan untuk menghibur ribuan orang—mengingat sekarang kita amat teknis dan menekankan pendekatan khusus dalam sastra. Fakta tersebut menjadi bukti dari kecenderungan melek huruf warga Athena. Mereka diharapkan mengenali ragam kiasan dalam karya-karya sastra lampau, memahami istilah-istilah perdebatan kritis, serta implikasi politik dan sosialnya.

Plot komedi Aristophanes dibangun di sekitar gagasan bahwa tidak ada lagi penyair baik yang tersisa di dunia. Dramawan yang hidup yang tersisa tinggal para pengobrol (jabberers) yang menurunkan martabat seni mereka. Tak ada jalan lainuntuk mendapatkan jasa penyair baik selainmenghidupkanmereka yang mati. Untuk menentukan penyair mana—antara Euripides atau Aiskhulos—yang lebih cocok untuk tugas ini, pengadilan dilakukan di depan Pluto. Hakimnya adalah Dionysus, dewa pelindung drama. Aristophanes menggambarkan petualangan komik Dionysus dan budaknya Xanthias, saat mereka berjalan ke pengadilan dan mendengarkan argumen yang ditawarkan oleh masing-masing dari dua penyair tragedian itu.

Dalam konteks seni puitik, Aiskhulos mewakili kebajikan yang lebih tradisional dari generasi lampau, seperti kecakapan bela diri, kepahlawanan, penghormatan terhadap hierarki sosial—semuanya diwujudkan dalam gaya bicara yang luhur, indah, dan luhur. Sementara itu, Euripides adalah suara yang lebih baru, demokratis, generasi yang sekuler dan sederhana. Ketika bicara tentang fungsi-fungsi umum puisi, Aiskhulos menjelaskan bahwa para penyair seperti Orpheus mengajarkan ritus-ritus agama, kode-kode moral, dan obat-obatan; Hesiod memberi instruksi tentang pertanian; Homer menyuarakan keberanian, kehormatan, dan eksekusi perang. Aiskhulos menempatkan dirinya dalam tradisi ini, mengingatkan penonton bahwa drama-dramanya mengilhami hasrat untuk berperang. Dia memperingatkan bahwa para penyair adalah guru para lelaki dan harus menghindari penggambaran tentang segala jenis kejahatan—terutama pelacuran dan incest yang dapat ditemukan dalam karya Euripides.

Euripides sepakat bahwa pada umumnya penyair dihargai karena kecerdasannya, juga sebagai penasihat yang bijaksana.

Penyair melatih masyarakat untuk menjadi penduduk kota yang baik dan layak.

Namun—berbeda dengan Aiskhulos—dia menggunakan cara demokratis yang memungkinkan perwakilan dari semua kelas bisa bicara, menunjukkan iklim kehidupan bersama, serta mengajar publik untuk berpikir. Ia bersikeras bahwa penyair harus berbicara dalam kebiasaan manusia dan menuduh Aiskhulos menggunakan bahasa yang bombastis, tidak jelas, dan berulang-ulang.

Aiskhulos meyakini bahwa gaya pidato yang tinggi dan luhur cocok untuk pikiran yang kuat dan tujuan heroik. Ia mencela Euripides yang dianggapnya telah mengajari para pemuda kota berseteru, berdebat, menantang, berdiskusi, dan menyanggah sebagai ajakan ke panggung pesta pora dan skandal. Akhirnya, sebuah skala dibawa, menunjukkan bahwa syair Aiskhulos lebih berisi. Secara signifikan—menurut Dionysus—ada dua faktor yang terlibat dalam memutuskan soal ini. Pertama, Athena tidak hanya membutuhkan penyair sejati untuk melanjutkan festival drama dan kompetisi paduan suara tetapi penyair ini akan dipanggil untuk memberi beberapa saran pada kota tentang masalah politik—terutama tentang hal yang harus dilakukan pada Alkibiades (seorang jenderal yang cerdas, egois, sekaligus pemurahyang berada di pengasingan. Ia dianggap ancaman bagi negara dan demokrasi).

Aiskhulos mengulangi nasihat Perikles bahwa kekayaan sejati Athena terletak pada armadanya. Dionysus mengucapkan nama Aiskhulos sebagai pemenang. Menariknya, paduan suara menyanyikan pujian pada Aiskhulos, menyatakannya sebagai pria dengan pikiran cerdas. Kecerdasan itu mewujudkan kebijaksanaan yang dibutuhkan seni tragedi, sekaligus sangat kontras dengan pembicaraan kosong nan berdalih dari Sokrates. Kelak, pertentangan antara puisi dan filsafat itu akan muncul berulang dalam perjalanan historis kritik sastra.

Drama Aristophanes sesungguhnya memberlakukan kewajiban sipil puisi dan kritik sastra. Pujian yang datang pada Aristophanes itu bergantung pada seruannya bagi orang-orang Athena—yang akan mendapat kekalahan militer—untuk kembali ke spirit peperangan. Drama The Frogs mementaskan politik dan budaya Athena sebagai dilema kritis sastra.

Contoh perdebatan kritik sastra yang berkesinambungan tersebut mengungkap sejumlah ciri menonjol dari puisi dan kritik dalam khazanah Yunani kuno. Pertama, fokus kita yang kadang-kadang sempit pada dimensi estetis belaka. Sastra yang murni—dari suatu teks—akan tidak dapat dipahami oleh orang Yunani kuno. Puisi bagi mereka adalah elemen penting dalam proses pendidikan. Dampaknya kemudian adalah moralitas, agama, dan seluruh lingkup tanggung jawab sipil. Dengan demikian, puisi itu sendiri adalah sebuah forum untuk diskusi tentang isu-isu yang lebih besar. Puisi memperlihatkan penghargaan yang tinggi padasifat publik dan politik puisi, sebagaimana terdapat pula pada dimensi teknis atau artistiknya. Faktanya, berbagai dimensi puisi dan sastra ini tidak terpisahkan. Maka untuk memahami asal-usul dan sifat kritik sastra di dunia Yunani, kita perlu mengetahui kekuatan politik, sosial, dan intelektual yang membentuk pemahaman penulis tentang realitas.***

Komentar

comments

Related posts

Masih Relevankah Sebuah Keharusan Menjadi Seorang PNS Masa Kini? 

Nova Damar

Visi Puitis (Bagian 3 dari Trilogi Kritik Sastra)

Aura Asmaradana

Eksistensi Pop Punk: Sisi Lain dari Kultur Punk

Ivan Matheus

Kognisi.com menggunakan fitur cookie untuk memaksimalkan pengalaman berselancar anda pada laman kami. Apabila anda tidak berkenan, anda dapat mematikan fitur ini. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
Lewat ke baris perkakas