Kognisi.com
  • Home
  • Persepsi
  • Review Film Wiro Sableng 212 (2018): Kebangkitan Legenda Pop-culture era 90-an
Persepsi

Review Film Wiro Sableng 212 (2018): Kebangkitan Legenda Pop-culture era 90-an

 “Wira Saksono itu nama aslinya, lahir dari ibu bernama Suci, dengan ayah yang bernama Raden Ranaweleng, dan dibesarkan oleh guru bernama Sinto Weni, alias Eyang Sinto Gendeng, atau Sinto, Sinto Gila. Wiro Sableng mewarisi sebuah senjata sakti, berupa kapak, bermata dua, berhulu satu, berkepala naga, Kapak Naga Geni 212 Namanya, senjata pamungkasnya, yang hebat, yang siap membasmi orang-orang jahat.”

Vino yang terlihat beda ketimbang Ken Ken, namun tetap konyol dan kocak mempertahankan kesan Wiro yang tetap melekat.

Ketika membaca lirik tersebut, banyak yang langsung menyadari dan bernostalgia dengan simbol popculture era 90-an. Siapa lagi kalau bukan Wiro Sableng si Pendekar 212. Wiro Sableng merupakan karakter fiksi buatan almarhum Tito Bastian, seorang seniman dan penulis novel yang kebanyakan dari karyanya sarat akan nuansa etnis selain penuh humor menyenangkan. Ditulis pada tahun 1967, novel Wiro Sableng menjadi contoh dari karyanya yang paling terkenal hingga diadaptasi menjadi sinema elektronik  pada tahun 1995 dengan menghadirkan Herning “Ken Ken” Sukendro yang berperan sebagai Wiro Sableng.

Sheila Timothy, seorang Produser dari Lifelike Pictures (Modus Anomali) berkolaborasi dengan Fox International Productions mencoba membangkitkan kejayaan masa lalu Wiro Sableng dengan membuat adaptasi barunya berjudul Wiro Sableng 212 pada tahun 2018 ini. Angga Dwimas Sasongko (Bukaan 8, Filosofi Kopi) kali ini mendapatkan kesempatan untuk menanggung beban sebagai sutradara dari film layar lebarnya yang sudah tayang sejak tanggal 30 Agustus 2018. Apakah mereka sudah berhasil menghadirkan perasaan nostalgia dan membangkitkan kejayaan dari Wiro Sableng?

Trio yang paling tak pernah di sangka akan bekerja sama.

Simple dan mudah dimengerti, kata yang paling tepat untuk menjelaskan keseluruhan dari cerita film Wiro Sableng 212. Kolaborasi Sheila Timothy, Tumpal Tampubolon dan Seno Gumira Ajidarma berhasil menyajikan naskah cerita yang tidak rumit serta mudah dinikmati oleh kebanyakan orang meskipun terkesan Playing save. Twist yang dihadirkan juga cukup mudah ditebak tanpa terasa dipaksakan. Bagi yang membaca karya aslinya ada beberapa perubahan plot, ini cukup bisa ditoleransi mengingat empat episode awal (Empat Berewok dari Goa Sanggreng, Maut Bernyanyi di Pajajaran, Dendam Orang-orang Sakti, dan Keris Tumbal Wilayuda) yang menjadi source untuk diadaptasi. Dengan pemadatan konten tersebut, sang sutradara Angga Dwimas Sasongko menunjukan skill-nya sehingga berhasil membangun naskah adaptasi tersebut menjadi cerita yang konsisten dan tidak terkesan terburu-buru.

Vino G. Bastian (Serigala Terakhir, Warkop DKI Reborn) cukup sukses menghadirkan sosok Wiro yang jenaka dan sableng.

Beberapa dialog yang diucapkan oleh Wiro terkesan natural dan menunjukan karakternya yang ”  slengean” dan Innocent.

Kurang greget apa saya coba?

Disini Vino tidak berusaha meniru pendahulunya (Ken Ken) melainkan mencoba menjadi karakter Wiro yang lebih Fresh dan kekinian. Meskipun begitu, ada rasa tawar pada adegan-adegan yang membutuhkan sisi emosional Wiro. Alih-alih berempati, penonton malah menunjukan raut Pokerface. Untuk pemeran lainnya, seperti Anggini yang diperankan oleh Sherina Munaf (Petualangan Sherina) terasa plain dan kurang eksplorasi, terkesan hanya sebagai wingman yang biasa-biasa saja dengan penamilan yang inkonsisten. Kemudian Si Bujang Gila Tapak Sakti yang diperankan oleh Fariz Alfarizi dalam debut perdananya di dunia perfilman cukup bisa diapresiasi, beberapa kali ambil dalam adegan komedi bersama Wiro yang bisa membuat penonton ngakak. Dan masih banyak lagi pemeran pembantu yang biasa saja dan tidak memberikan kesan “wah” dalam film ini, tapi bukan berarti juga buruk. Di sisi lain, kita bisa mengacungi jempol kepada Yayan Ruhian (The Raid, Star Wars Episode VII: The Force Awakens) yang berperan sebagai Mahesa Birawa. Aura seorang Villain yang bengis dan tak kenal ampun sangat cocok diperankan oleh kang Yayan.

 

Untuk adegan pertarungan setiap tokoh juga dibungkus luar biasa apik dan berkelas.

Lagi-lagi ini berkat Yayan Ruhian sebagai koreografer yang kali ini dibantu oleh  Chan Man Ching (Yasmine) seorang fighting director salah satu anggota tim Jackie Chan (Rush Hour, Police Story) menyajikan setiap adegan pertarungan lebih dinamis dan penuh ketegangan. Bagi penggemar lamanya, kalian akan merasakan tempat yang memorable seperti adegan pertarungan di warung makan. Latar kerajaan, gunung, padang rumput dan tempat-tempat lain juga dipilih secara bijak dan memanjakan mata penonton. Kostum yang digunakan oleh para pemeran film ini juga tidak menunjukan kesan berlebihan dan membaur dengan latar waktunya yaitu abad 16-an. Terimakasih kepada Nadia Adharina yang telah mendesain sedemikian rupa kostum dari film ini.

Ada beberapa hal yang mengganggu dalam pengambilan gambar seperti tata cahaya di malam hari terlihat cukup redup sehingga mengurangi keseruan adegan-adegan pertarungan di film ini. Ditambah dengan beberapa penerapan CGI yang kasar dan kurang stabil, menurunkan tensi dan memberikan kesan yang aneh. Namun bisa dibilang hal ini masih sedikit tertutupi dengan transisi setiap adegan dengan cukup smooth. Musik yang dicompose oleh Aria Prayogi (The Raid 2, Apostle) ini juga membalut keseluruhan film dengan baik. Meskipun sulit meninggalkan kesan membekas ditelinga, tapi secara spontan sound effect yang dihadirkan men-deliver ketegangan dari setiap adegan-adegan pertarungan.

 

Verdict: Recommended

Kesimpulannya, meskipun Wiro Sableng 212 bukanlah film yang sempurna, namun mampu membawa nostalgia bagi para penggemar lama dengan menggunakan kekuatan cerita, suasana, latar tempat dan kostum yang digunakan oleh pemerannya. Bagi penggemar baru, jangan khawatir. Film ini menghadirkan unsur-unsur yang fresh dari juga segi cerita yang mudah dimengerti serta penokohan dan dialog yang lebih kekinian. Lifelike Pictures dan Fox International Productions dinilai berhasil menghidupkan kembali sang legenda Wiro Sableng ke dalam film ini.

Kami memberikan keputusan bahwa film ini : Recommended bagi penggemar setianya maupun penonton yang baru ingin mengenal tokoh Sableng satu ini.

Catatan: Jangan terburu-buru berdiri dan melewatkan credit scenes-nya. Ada sedikit suplemen penambah rasa penasaran akan sequelnya.

 

Komentar

comments

Related posts

Album Terakhir Dewa 19, Apakah Mungkin?

Antho Oktapianto

Sekelebat Tulisan Tentang Mode Pakaian

Ayu Amelia

Mission: Impossible – Fallout ; Kumis Henry Cavill Yang Terbayar Tuntas!

Izfah Sebastian

Kognisi.com menggunakan fitur cookie untuk memaksimalkan pengalaman berselancar anda pada laman kami. Apabila anda tidak berkenan, anda dapat mematikan fitur ini. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
Lewat ke baris perkakas