Kognisi.com
Kuliner Persepsi

Sehat dan Ekonomis ala Tren Poke Bowl

Healthy food adalah sebuah tren. Mau bagaimanapun, ia adalah sebuah strategi marketing pembaharuan pasar di industri pangan. Salah satu strateginya adalah mengangkat menu menu eksotis di belahan dunia, mengumpulkan bahan-bahan yang tidak familiar, lalu menjuluki mereka superfood. Strategi lainnya adalah dengan gencar mengkampanyekan label junk food kepada industri fast food.

Lima tahun belakangan, gaya hidup sehat gencar dikampanyekan melalui media massa di mana-mana. Yoga dan meditasi, serta gerakan-gerakan vegan dan vegetarian yang dilakoni musisi, seniman, aktor, selebriti, menarik perhatian kita. Begitu pun halnya di Jakarta dan Bali. Respon di kedua daerah ini menjadi wajar sebagai reaksi cepat atas tren global di dunia kuliner—mengingat keduanya adalah tempat yang banyak dikunjungi masyarakat internasional.

Mulai dari makanan Jepang, Korea, Vietnam, Thailand; glutten free sampai nut free. Semua kuliner dan kostum yang sedang tren beranjak diadaptasi. Kadang ahlinya sampai dibawa dari negara yang bersangkutan untuk transfer pengetahuan, atau untuk merekrut mereka yang pernah bekerja di negara tersebut. Ada juga cara yang lebih vulgar, yaitu mempelajarinya via internet. Secara ekonomi, tentu saja ini baik. Namun, ini menyebalkan buat pecinta kuliner dan orang-orang yang ahli di bidangnya. Akan selalu ada detil-detil penting yang tidak disebutkan di internet karena dianggap remeh-temeh. Wajar jika beberapa orang Italia sangat kritis tentang kualitas gelato dan espresso yang kita sajikan, mengingat kita sendiri pasti akan kritis soal kualitas nasi goreng atau masakan padang yang kita santap di Eropa, misalnya.

Saya akan membicarakan tentang kuliner asing yang muncul negara ini 3-4 tahun terakhir. Poke bowl. Awalnya saya berpikir poke bowl bakal bertema pokemon, atau diambil dari fitur poke di Facebook. Dengan sedikit membaca, bertanya pada kawan-kawan di industri kuliner, dan mencobanya sendiri, saya mulai memahaminya. Pada hakikatnya poke bowl adalah kuliner yang sudah ratusan tahun ada di Hawaii. Konsep ikan mentahnya mirip dengan sushi khas Jepang. Untuk menelusuri poke bowl, kita kembali ke era 1800-an—dicatat dengan baik oleh The Hawaiian Japanese Center Museum—ketika ratusan pemuda Kanto keluar dari Jepang, menuju Hawaii. Mereka adalah gelombang pertama yang keluar secara legal sejak kebijakan isolasi Shogun Klan Tokugawa era 1600-an. Mereka menyebut Hawaii sebagai tenjiku, surga di mana tidak ada dinginnya salju dan keringnya musim panas. Meski begitu, tinggal di pulau dengan perbedaan bahasa dan cuaca tropis tentu saja butuh kerja keras.

Salah satu menu poke bowl ala Kanto. Ikan tuna, sayuran, dan beberapa moda buah yang divariasikan sedemikian rupa.

Kelompok pemuda Kanto itu kemudian menikahi perempuan-perempuan Hawaii hingga percampuran budaya pun tak terelakkan. Poke (dibaca POH-keh)—dalam bahasa Hawaii berarti mengiris atau memotong—adalah makanan khas masyarakat nelayan di Hawaii yang sehat dan ekonomis. Disebut ekonomis karena ide awalnya adalah memotong dadu bagian-bagian ikan yang murah, seperti kepala dan ekor. Poke mulai masuk ke Amerika dan dikomersialkan sedemikian rupa dengan nama poke bowl di era 70-an, mendapat popularitas di tahun 2012, dan meledak pada 2016.

Menurut saya, poke bowl ada kombinasi yang unik. Ia seperti makanan Indonesia dengan nasi dan lauk pauk, tapi pun seperti salad. Poke bowl mungkin bisa dibilang sushi yang sengaja dibuat kacau dan tercerai-berai. Karakter utamanya adalah ikan mentah, secara tradisional adalah ahi tuna, gurita, dan albakora. Ikannya cukup dimarinasi dengan saus ponzu (bawang putih, daun bawang, lobak, cabai, kecap asin, garam, lemon), ditambah sedikit minyak wijen dan cuka beras. Ikan ini kemudian ditambah elemen karbohidrat dan sayuran. Done. Poke bowl memang ditakdirkan untuk menjadi makanan simple dan sehat, bisa dibuat di rumah tanpa harus memasak dengan terburu-buru di pagi hari atau saat anda pulang kerja, selama ikannya masih segar.

Lalu, apa yang ditawarkan poke bowl yang ada di restoran? Sebuah variasi, upgrade dari versi normalnya. Dislogankan secara marketing sebagai sebuah makanan sehat dan mengenyangkan setelah Anda berolahraga. Elemen karbohidrat dalam poke bowl kerap diubah dengan beras merah, beras hitam, jagung, atau yang umum adalah beras melati atau beras wangi Thai. Bagaimana supaya membuatnya lebih update lagi? Bahan-bahan seperti zoodles (zucchini noodles), biji-bijian yang hype seperti kinoa ataupun rivalnya, farro mulai diperhitungkan. Dari segi protein, tuna kerap disubtitusi dengan salmon, kakap, trout, sunglir, ataupun sebelah. Beberapa ikan tersebut disortir dengan grade untuk sushi. Tidak suka ikan mentah? Ganti dengan ayam, kepiting, atau udang yang dimasak. Vegetarian? Ganti dengan tofu. Buat sendiri di rumah? Ganti dengan tuna kalengan.

Sausnya poke bowl oleh beberapa tempat diganti dengan saus teriyaki, kimchi, shoyu. Lemon diganti dengan jeruk nipis, perasan jeruk, ataupun, ehm… jahe. Elemen sayur pun begitu variatif. Anda bisa menambahkan lobak, rumput laut, nori, tomat, mentimun, bawang-bawangan, jamur shitake, acar. Elemen kacang-kacangan umumnya berupa macadamia dan edamame. Bahkan beberapa restoran menambahkan semangka, mangga, nanas, dan keripik tempe. Satu elemen yang selalu ada di dalam poke bowl adalah taburan wijen, atau bawang goreng (duh!). Bagi saya pribadi, variasi, dan ide baru dalam sebuah makanan tradisional seyogyanya tidak terlalu melenceng dari konsep asli daerah asalnya. Jadi, jika Anda ingin membuat variasi poke bowl Anda sendiri, setidaknya potonglah dadu bahan-bahannya. Hahahaha.

Selamat bereksperimen dan menikmati poke bowl!

 

Penulis: Setyono Hardi Suwarso
Penyunting: Aura Asmaradana
Artwork dan Tata Letak: Reza Wijaya

Komentar

comments

Related posts

Mengenal Magic Coffee: Dari Melbourne Untuk Dunia

Setyono Hardi

Travelling? Ini Yang Perlu Kita Siapkan!

Dewi Vidottir

Album Terakhir Dewa 19, Apakah Mungkin?

Antho Oktapianto

Kognisi.com menggunakan fitur cookie untuk memaksimalkan pengalaman berselancar anda pada laman kami. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
Lewat ke baris perkakas