Kognisi.com
  • Home
  • Literasi
  • Term “Barat” Dalam Taman Penghibur Hati: Beberapa Narasi Sebelum Perang
Literasi

Term “Barat” Dalam Taman Penghibur Hati: Beberapa Narasi Sebelum Perang

Mahyuddin, baru saja pulang dari Eropa. Di Eropa, ia merasakan hidup di luar kungkungan adat dan kebiasaan negerinya. Ia pun lupa pada daratan; pada istri yang ditinggalkannya. Tak jauh berbeda dengan Mahyuddin, Syahbuddin juga pergi ke Belanda, jatuh cinta pada Annie, dan memutuskan hubungan dengan kekasihnya, Aini di negeri asalnya. Ada pula tokoh-tokoh lain seperti Syofyan, Syafiuddin, Rohana, Alida, Karel dan Lina Meyland yang juga bepergian ke luar negeri untuk belajar—atau paling tidak mengecap pendidikan Barat.

Sastra dan Realitas

Saadah Alim

Tokoh-tokoh itu digubah Saadah Alim (1898-1968), seorang wartawan dan sastrawan dari Sumatera Barat dalam kumpulan cerita pendeknya, Taman Penghibur Hati (TPH). Beberapa kecenderungan Saadah dalam mengaitkan tokoh-tokoh dengan pendidikan Barat tidak dapat dilepaskan dari pribadinya. Sejak era Yunani Kuno, sudah ada pemahaman bahwa karya sastra berkait kelindan dengan kenyataan sesungguhnya. Dengan menekuni problem-problem yang diungkapkan karya sastra, pembaca dapat mengenali situasi dan kondisi masyarakat pada tempat dan waktu karya sastra itu diciptakan.

Novel dari beliau. (sumber : bukalapak.com)

Platon, misalnya, menyejajarkan sastra dengan politik. Menurut Platon, keduanya menggunakan bahan mentah yang sama, yaitu kata-kata, untuk mempengaruhi audiens atau pembaca. Dia berpendapat bahwa kata-kata mampu membuat pembaca rentan terhadap rayuan baik penulis maupun para politisi—yang secara subversif melemahkan pengajaran dan indoktrinasi yang mendasari struktur dalam masyarakat idealnya.

Kecurigaan Platon tentang sastra didasarkan pada kemampuan sastra untuk menanamkan semacam konstitusi jahat di benak pembaca. Tepat di sini letak fakta bahwa pembaca karya sastra cenderung dapat dipengaruhi oleh karyayang ia baca. Hal ini marilah kita lepaskan dari pendapat Platon bahwa baik sastra maupun politik ketika diuji dalam konteks sosial melakukan fungsi yang sama, yaitu menjadi demagog—yang meletakkan penulis sebagai manipulator yang menyesatkan pembaca. Ya, sastra menurutnya tidak lebih baik daripada retorika.

Aristoteles pun berada di posisi yang kurang lebih sama mengenai persentuhan sastra dengan realitas. Ia melihat sastra sebagai sains karena menyediakan kerangka untuk mendefinisikan, mengklarifikasi, memberi contoh, serta memberikan argumen yang masuk akal untuk memahami fenomena. Aristoteles memilih pendekatan yang preskriptif dan sistematis untuk memahami realitas.

Sudut Pandang

TPH ditulis pada periode tahun 1920-an—biasa dikategorikan pada karya sastra sebelum perang atau kemerdekaan. Ketiga belas cerita pendek di dalamnya disebut anti-mainstream karena mengandung optimisme—masalah-masalah selalu dapat dipecahkan dengan cara yang memuaskan. Banyak di antara ceritanya yang berakhir dengan pertemuan atau persatuan insan-insan dalam kondisi bahagia. Hal ini berbeda dari pengarang lain angkatan 20-anyang menurut Ensiklopedia Sastra Indonesia—menampilkan tema gelap dengan sebagian besar tokoh yang dibuat mati.

Hampir seluruh cerita dalam TPH bercerita tentang kisah romansa perempuan dan laki-laki—baik dalam bentuk relasi suami-istri, kekasih, atau perjodohan. Kedua belas cerita bercerita dengan gaya serupa, yaitu meletakkan narator yang tak terlibat dalam peristiwa-peristiwa yang dia ceritakan. Selain bukan merupakan tokoh dalam cerita, narator berdiri pada jarak tertentu dari tindak merekam yang disampaikan maupun dilakukan oleh para tokoh utama. Hal-hal yang oleh tokoh dipikirkan, dirasakan, dan dihasrati direkam oleh narator. Dengan kata lain, narator memiliki pengetahuan tanpa batas.

Narator dalam cerita-cerita dalam TPH melihat ke dalam benak beberapa tokohnya.Di benak Marliah, misalnya. “Marliah mengerti akan pikiran Mahyuddin itu. Inilah masa yang baik buat melepaskan dendamnya, menyemburkan segala kerendahan kemanusiaan Mahyuddin ke mukanya.” (Kalau Timur Sudah Memanggil) atau terkait tokoh Bachtiar, “Bachtiar heran, hampir-hampir takpercaya ia pada mata dan telinganya, tetapi dalam hatinya ia mengucapsyukur akan perubahanitu. (Keberaniannya).

Narator juga sesekali menambahkan beberapa editorial omniscience. Kasihan! Ia harus mengaburkan sekalian citacitanya. (Peninggalan Istrinya) atau “Ah, alangkah sukarnya bagi seorang perempuan muda yang baru berumur 35 tahun, yaitu masa hendak memetik kelezatan dunia(Rantai Yang Memperhubungkan).

Melihat ragam sudut pandang itu, kita tetap harus ingat bahwa sikap dan pendapat narator bukan semata-mata sikap dan pendapat Saadah sebagai penulis. Faktanya, kita sering menemukan konflik nyata antara hal yang kita sampaikan dan hal yang kita yakini atau percayai. Meski begitu, hadir atau tidaknya Saadah sebagai pengarang bisa membantu kita dalam menemukan kesenjangan yang ditinggalkan oleh pengarang, melacak distribusi kesenjangan dan penyimpangannya, dan memperhatikan munculnya celah-celah yang tercipta karena adanya kehilangan itu—sebagaimana diungkapkan Foucault dalam ide tentang fungsi pengarang. “Tidak cukup mengatakan bahwa Tuhan (Nietzsche) dan manusia (Barthes) sama-sama telah mati. Malah, kita harus menemukan kesenjangan yang ditinggalkan oleh hilangnya pengarang, melacak distribusi kesenjangan dan penyimpangannya, dan memperhatikan munculnya celah-celah yang tercipta karena adanya kehilangan itu.” Maka, sebetulnya latar belakang budaya Minangkabau serta biografi Saadah diperlukan untuk memetakan ciri intrinsik dan wacana yang dibawa oleh karya-karyanya.

Term “Barat”

Para tokoh dalam TPH—seperti dikatakan H.B. Jassin—diciptakan Saadah dalam posisi tidak menentang adat sama sekali. Hampir seluruh tokoh sudah menjadikan adat—termasuk perjodohan, ketertundukan atau pemakluman istri terhadap suami, dan sebagainya—sebagai bagian dari dirinya yang tak perlu dipertanyakan lagi. Kalau pun ada tokoh yang awalnya tidak sepakat terhadap perjodohan, akhir cerita selalu berpihak pada keberadaan adat, tanpa mengganggu gugatnya.

Jika diperhatikan baik-baik, cerita-cerita dalam TPH juga menyuarakan kesan betapa galaknya gaya hidup dan pendidikan “Barat” jika dibandingkan dengan budaya “Timur”sebuah pemahaman tentang “Diri” (yang dominan) dan “Yang Lain” (subordinat; dipaksa menyesuaikan diri dengan yang dominan). Budaya Eropa dalam konteks pembicaraan kita acap kali dipertentangkan dengan adat serta tradisi. Pilihan para tokoh dalam TPH untuk bersekolah ke luar negeri, kemudian menyebabkan mereka lupa akar budayanya menunjukkan hal itu. Mereka semacam kacang lupa kulitnya: bergaya hidup perlente dan jatuh cinta (sesaat dengan perempuan Eropa). Mereka semacam menyaru menjadi manusia lain—dalam term Homi K. Bhabha: sebuah mimikri.

Dalam kolonialisme, sang subordinat dinilai lebih rendah, didemonisasikan, dan dianggap tidak dewasa.Ia adalah tokoh yang ambivalen; mandiri, tetapi sangat tergantung pada situasi sosial-politik dan wacana-wacana dari luar dirinya—untuk tidak mengatakannya “asing”.

Jika kekembalian para tokoh cerita dalam TPH patut disejajarkan dengan pemihakan Saadah terhadap adat Minangkabau, maka tidak bisa luput fakta bahwa Saadah adalah bagian dari segelintir masyarakat Hindia Belanda yang bisa mencicipi pendidikan Belanda—hasil dari semangat politik etis. Pendidikan Saadah di masa muda adalah Kweekschool (sekolah guru) di Bukittinggi. Setamat sekolah itu, ia menjadi guru HIS di Padang dari tahun 1918—1920 kemudian menjadi guru Meisjesnormaalschool (Sekolah Guru Puteri) di Padang Panjang.

Penaklukan yang dilakukan dalam wacana kolonial tidak melulu soal pemerintahan dan kekuasaan, melainkan juga sebagai sebuah sistem pengetahuan dan representasi. Saadah—melalui tokoh-tokoh dalam TPH—semacam membalik pola tersebut. Ia berbalik mendemonisasi Barat dan mengagungkan adat. Pembalikan pola ini sebetulnya bisa jadi kritik mengingat Edward Said dalam “Nationalism, Human Rights, and Interpretation” meragukan bahwa imperialisme bisa terkikis hanya dengan semangat nasionalisme jika nasionalisme itu menjiplak pola wacana kolonial dalam kemerdekaan.

Dengan segala keberpihakan yang ditemukan dalam TPH, adakah Saadah telah masuk dalam jerat imperialisme yang lain? Bisa jadi. Satu hal yang lebih pasti, karya Saadah melalui tokoh-tokohnya telah berada pada satu sikap. Melalui kekembalian pada adat, ia menggoyang kemapanan citra politik etis, menciptakan distorsi-distorsi dalam wacana kolonialisme yang sempurna nan elitis.***

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

comments

Related posts

Pada Mulanya Adalah Krites (Bagian 1 dari 3)

Aura Asmaradana

Kuasa Sastra (Bagian 2 dari 3)

Aura Asmaradana

Visi Puitis (Bagian 3 dari Trilogi Kritik Sastra)

Aura Asmaradana

Kognisi.com menggunakan fitur cookie untuk memaksimalkan pengalaman berselancar anda pada laman kami. Apabila anda tidak berkenan, anda dapat mematikan fitur ini. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
Lewat ke baris perkakas