Kognisi.com
Aliansi

“Tsunami! Tsunami!”: Refleksi Sekaligus Kritik Sosial bagi Masyarakat Flores

Ami Noran! Ami Noran!

Orang-orang berteriak, berlarian ke sembarang arah, hewan-hewan berhamburan keluar kandang, sebagian lainnya mengerang panik agar ikatan pada bagian tubuh mereka dilepaskan sehingga bisa ikut kabur entah ke mana. Tumbuh-tumbuhan bergerak mengikuti pola getaran tanah yang bergerak naik turun dan mulai terbelah. Dari kejauhan terdengar empasan ombak yang terseret jauh ke tengah lautan, kemudian hanya dalam waktu sepersekian detik tiba kembali di daratan. Menghantam dan menyeret semua yang ada menuju laut lepas. Semua luluh lantak, hancur, rata dengan tanah.

Foto Arsip pasca Gempa dan Tsunami 92’ di Pelabuhan Maumere Fotografer: Yoseph Benyamin S. (1992), Pengarsipan oleh: Markz Jagoz – M7.8SR (2017)

 

Gambaran di atas mungkin seketika akan muncul dalam benak orang-orang yang menjadi saksi peristiwa gempa bumi dan tsunami Flores, khususnya Maumere pada 12 Desember 1992 silam. Gempa dan tsunami 1992 menjadi ingatan kolektif sebagian besar masyarakat Maumere yang mengalami atau yang mewarisi cerita-cerita tentangnya. Dalam ingatan itu terdapat trauma, rasa kehilangan, turbulensi, keterkejutan dan kehancuran.  Tsunami  ’92 adalah momen refleksi bagi masyarakat Maumere dan Flores tentang alam, kemanusiaan, sekaligus tentang gerak laju ekonomi, politik, dan sosial budaya.

Tsunami berkaitan erat dengan kehidupan laut: pantai, masyarakat nelayan, dan ekosistem biologis lainnya. Laut ataupun pantai sendiri juga merupakan ruang pertemuan orang-orang. Laut adalah ruang publik.  Tempat orang-orang berinteraksi. Ada dimensi sosial di dalamnya. Selain dimensi sosial, pantai dan laut juga memiliki dimensi kultural.

Ada banyak dongeng tentang asal-usul nenek moyang suku Krowe (suku terbesar yang mendiami kabupaten Sikka) dan suku Bajo, Bugis yang mendominasi wilayah pesisir, ada kepercayaan filosofis tertentu tentang bencana alam yang bersumber dari mitos-mitos lokal, dan penghargaan yang tinggi terhadap laut sebagai sumber kehidupan.

Masih berkaitan dengan laut dan pantai, pencaplokan ruang publik dan eksploitasi sumber daya alam  menjadi fenomena yang memprihatinkan di Flores saat ini. Privatisasi secara ilegal maupun legal mestinya dikritisi. Privatisasi pantai, maupun dominasi perdagangan sumber daya alam oleh perusahaan-perusahaan multinasional merenggut sekaligus akses masyarakat terhadap ruang publik dan sumber penghidupan mereka.

Gesekan dan konflik vertikal maupun horizontal seperti yang terjadi pada kasus Pantai Pede di Labuan Bajo adalah contoh kecil efek dari fenomena ini. Pada lain kasus, luas pantai semakin berkurang oleh karena abrasi yang semakin menjadi-jadi. Di sini, ada dua hal yang bisa ditempatkan dalam konteks “pencaplokan pantai dan ekosistem laut”. Pertama, privatisasi—“penyemenan” (ulah manusia secara langsung) serta eksploitasi sumber daya alam—dan kedua, abrasi sebagai aktivitas alam yang mungkin memiliki kaitan dengan dua hal di atas juga aktus manusia secara umum.

Tsunami  sebagai kenangan,  dan  berbagai krisis yang terjadi di  pantai  dan ekosistem laut pada kenyataannya tentu dapat dipertautkan untuk menghadirkan titik kritik yang hendak disasar. Logika pembangunan dengan pariwisata sebagai leading sector yang juga turut mengubah wajah pantai menjadi sangat turistik, pemerintah yang korup, investor-investor berkarakter kapitalis-neoliberal, masyarakat yang apatis, dan pergeseran paradigma kebudayaan yang ditandai oleh modernisasi, globalisasi, dan fenomena media sosial, juga kearifan lokal yang turut tergerus, boleh dibahasakan sebagai ‘tsunami’ masa kini. Tsunami sekarang punya banyak wajah. Dia bukan hanya sebuah bencana alam, melainkan juga bencana kemanusiaan.

Menyikapi perkembangan situasi ini, Komunitas KAHE yang sudah bergiat di bidang kesenian dan kebudayaan selama kurang lebih tiga tahun ini, berinisiatif untuk  melakukan sebuah penciptaan kesenian secara kolaboratif (bersama-sama) dan menjadikan tema tsunami sebagai titik-pijak refleksi dan pengembangan artistik. Pilihan untuk melakukan penciptaan karya  seni secara kolaboratif  ini berangkat dari beberapa alasan.

Apa saja alasannya?

Pertama, KAHE sebagai sebuah komunitas yang dibentuk oleh seniman dan penggiat dari berbagai latar belakang, sejauh ini belum memiliki karya bersama yang secara tegas membahas suatu isu sosial yang terjadi di wilayah Maumere juga Flores umumnya yang menjadi keprihatinan bersama. Penciptaan bersama ini diharapkan menjadi representasi  statement  politis KAHE terhadap isu yang terjadi.

Kedua, penciptaan ini merupakan salah satu eksperimen sekaligus studi lanjut tentang penerapan metode penciptaan bersama sebagai sebuah disiplin, yang sebelumnya telah dilakukan oleh Teater Garasi dan Komunitas KAHE dalam workshop ‘Bertolak dari Yang Ada, Bicara pada Dunia’.

Inisiatif untuk membuat sebuah karya seni dengan tema tsunami sebenarnya sudah ada sejak tahun 2015.  Tsunami  adalah sebuah upaya  mengenang dan merefleksikan kembali  peristiwa bencana alam dahsyat yang terjadi di Flores (khususnya Maumere) pada 12 Desember 1992, yang menelan berjuta korban jiwa, kerusakan materi, dan berpengaruh bagi jalannya sistem ekonomi, politik, dan kebudayaan (tahun 2017, bencana alam ini berusia 25 tahun).

Selanjutnya, pada Desember 2017 lalu, Komunitas KAHE bekerjasama dengan Teater Garasi Yogyakarta menggelar kegiatan dengan tajuk M 7.8 SR: Pameran, Diskusi, dan Pertunjukan (Refleksi Tsunami di Maumere dalam Memori, Perubahan, dan Ancaman). M 7.8 merujuk pada kekuatan guncangan gempa yang terjadi kala itu. Kegiatan ini merupakan presentasi dari rangkaian pertemuan, sharing, workshop, dan eksperimentasi terhadap proses penciptaan bersama (collaborative creation) yang berlangsung kurang lebih selama empat bulan dan menjadi bagian dari program Antar Ragam.

Anggota KAHE yang pada umumnya berasal dari generasi milenial dan tidak mengalami secara langsung sadar akan dampak dari peristiwa tsunami 92’ dan ingin merefleksikannya sebagai sebuah memori sekaligus metafora/visi untuk melihat perubahan dan ancaman tsunami masa kini yang sedang dan akan melanda Flores serta khususnya Maumere.

Beberapa bentuk kesenian yang dihasilkan dalam proyek ini antara lain: pameran reproduksi foto tsunami 1992, arsip-arsip berita mengenai tsunami 1992, lukisan, antologi tulisan, pembacaan puisi dan cerpen, serta pertunjukan musik. M 7.8 SR menjadi titik awal yang terus dikembangkan secara isi dan/atau cakupan resepsi dari beberapa kesenian yang telah dimulai pada Desember 2017 lalu.

Mengusung tema Tsunami! Tsunami!, festival tahunan Maumerelogia III mencoba meneruskan proyek kesenian tersebut dalam melihat kembali peristiwa bencana alam tsunami Flores 1992 yang kian dilupakan. Tema ini dipilih, didasari oleh kegelisahan para seniman yang terlibat peristiwa tsunami sekaligus menjadi refleksi bahwa bencana tersebut merupakan teropong untuk melihat keadaan Flores, khususnya Maumere masa kini dan potensi-potensi ancamannya di masa depan. Isu-isu masa kini yang kemudian disoroti secara khusus oleh KAHE antara lain mengenai privatisasi ruang publik, krisis ekologi, human trafficking, serta fenomena media massa.

Maumerelogia sendiri adalah sebuah festival sastra dan teater/seni pertunjukan yang diselenggarakan setiap tahun oleh Komunitas KAHE-Maumere. Maumerelogia pertama kali digelar pada tahun 2016, melibatkan komunitas-komunitas teater yang ada di Maumere dan didukung oleh Coloteme Art Movement-Kupang. Pada perhelatannya yang kedua, Maumerelogia juga melibatkan kelompok-kelompok teater pelajar, bekerjasama dengan Koalisi Seni Indonesia (KSI) dan Peace Woman Across The Globe (PWAG) yang menyelenggarakan Temu Seni Flores. Dalam dua perhelatan sebelumnya, konten Maumerelogia tidak hanya berupa pentas teater dan sastra, tetapi juga menghadirkan diskusi-diskusi seputar masalah sosial dengan medium teater/sastra dan kesenian pada umumnya, beberapa serial workshop, dan diskusi-diskusi pasca pementasan.

Berawal dari tujuan sederhana, yaitu untuk menciptakan ruang dan medan (uji coba) bagi kreasi serta apresiasi sastra dan teater di kota Maumere,

Maumerelogia kini secara sadar coba dibangun sebagai medium produksi pengetahuan, ekspresi argumentasi politis sebagai respon terhadap isu-isu sosial yang ada, terjadi, dan dialami dalam tubuh masyarakat kota Maumere, dan NTT pada umumnya.

Isu-isu sosial ini kemudian diproyeksikan dan direfleksikan dalam konstelasi yang lebih luas, yaitu dengan situasi terkini Indonesia.

Maumerelogia III rencananya akan berlangsung pada tanggal 2-4 November (Diskusi dan Launching Buku), kemudian dilanjutkan pada 9-10 November 2018 (Festival Teater). Beberapa agenda kegiatan yang telah disiapkan di antaranya adalah: pameran foto dan gambar, launching dan diskusi buku, pemutaran film dokumenter, serta pentas teater yang akan melibatkan banyak tim dari sekolah/kampus di kota Maumere.

Dalam Maumerelogia III, isu tersebut ditawarkan kepada kelompok-kelompok penampil, penonton, dan partisipan, untuk melakukan pendekatan lewat disiplin dan karya masing-masing. Beberapa komunitas seni berbasis sekolah formal—sebut saja, SMA Negeri II Maumere, SMAS John Paul II Maumere, juga perguruan tinggi Universitas Nusa Nipa, IKIP Muhammadiyah Maumere dan STFK Ledalero—telah menyatakan kesediaannya untuk tampil pada Maumerelogia III. Tak hanya itu, beberapa seniman dan kelompok seni dari wilayah Nusa Tenggara Timur lainnya, seperti Kupang dan Labuan Bajo, juga telah menyatakan siap untuk berpartisipasi.

Adapun buku yang akan di-launching merupakan buku pertama yang merangkum semua tulisan para seniman KAHE dan para penulis undangan yang diminta untuk terlibat pada antologi bersama. Dengan tetap mengusung tema tsunami, penerbitan buku ini difasilitasi oleh Garasi Performance Institute Yogyakarta yang turut terlibat sejak M 7,8 SR pada 2017 lalu. Peluncuran buku ini akan diwarnai dengan diskusi bersama beberapa narasumber pilihan. Cakupan isinya berkutat pada isu atau fenomena sosial yang saat ini marak berkembang. Buku lainnya yang didiskusikan adalah “Perjalanan Mencari Ayam” karya Armin Bell, seorang penulis sekaligus penggiat komunitas Saeh Go Lino yang saat ini berdomisili di Ruteng.

Diskusi yang akan digelar nantinya, tidak hanya sebatas pada buku-buku yang dibedah. Tetapi perihal isu-isu relevan demi merespon peristiwa-peristiwa yang tengah berlangsung di Indonesia, termasuk tragedi gempa Lombok serta tsunami di Palu dan Donggala. Meskipun yang diperbincangkan adalah tsunami Flores dua puluh enam tahun silam, fenomena alam masa kini tentu jadi kegelisahan bersama kita semua.

Maumerelogia III juga melibatkan seniman lainnya di Maumere untuk berkarya merespon isu yang sama. Ada Komunitas Huruf Kecil dan Gurang Garit Art yang siap melakukan live sketch dan pameran lukisan, juga kelompok musik Anak Cabang yang selalu menawarkan sudut pandang lain dalam bermusik.  Selain itu, beberapa film dokumenter siap diputar dan diperbincangkan. Sutradara film “Rumah Terakhir” Thyke Syukur dari Labuan Bajo telah mengkonfirmasi kehadirannya pada acara kali ini. “Rumah Terakhir” adalah salah satu dokumenter terpilih dalam Final Pitching Forum Project Change 2015.

Lokasi pusat penyelenggaraan Maumerelogia III nantinya akan berlangsung di area pantai Lokaria, tepatnya di halaman Biggong Tedang Kopi. Sedangkan diskusi buku dan pemutaran film akan dilaksanakan di beberapa tempat, seperti kampus STFK Ledalero dan Universitas Nusa Nipa.

Sebagai penutup dan ajakan bagi kawula muda sekalian, ini bukan hanya acara komunitas KAHE, melainkan acara kita semua. KAHE membuka diri kepada siapa saja untuk terlibat dan bekerja sama dalam menyukseskan acara ini. Mari kita bersama-sama menghidupkan geliat kesenian, terutama teater. Bukan hanya di Maumere atau Flores tetapi juga di seluruh Nusa Tenggara Timur. Epan Gawan.

Maria Pankratia (Tim Publikasi Maumerelogia III dan Anggota Komunitas KAHE)

Keterangan:

*Ami Noran: Kami ada

Editor: Olive Hateem

Tata letak: Aura Asmaradana

Artwork: Reza Wijaya

Komentar

comments

Related posts

Belajar dan Berkreativitas Melalui Gambar Bersama Komunitas Huruf Kecil

Komunitas KAHE

Kognisi.com menggunakan fitur cookie untuk memaksimalkan pengalaman berselancar anda pada laman kami. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy
Lewat ke baris perkakas